Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Perpasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:
1. Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
2. Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
3. Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
4. Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.
Autisme adalah gangguan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi social. Kata autis berasal dari bahasa Yunani “auto” berarti sendiri yang ditujukan kepada seseorang yang hidup dalam dunianya sendiri.
Kondisi penyandang autisme kiranya sesuai dengan definisi autisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) Edisi Ketiga tahun 2003 yang menyatakan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu (2003:77). Definisi tersebut didukung dengan pendapat Peeters yang menyatakan bahwa autisme merupakan suatu gangguan perkembangan, gangguan pemahaman atau pervasif, dan bukan suatu bentuk penyakit mental (2004:14). Definisi tersebut didukung dengan pendapat Peeters yang menyatakan bahwa autisme merupakan suatu gangguan perkembangan, gangguan pemahaman atau pervasif, dan bukan suatu bentuk penyakit mental (2004:14).
Sedangkan menurut Baron-Cohen (1993), autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif.
Autisme juga bukan penyakit mental, tentunya anak penyandang autisme tidak seharusnya dirawat di rumah sakit jiwa. Orang tualah pemegang kunci pertama pengenalan dini pada anak penyandang autisme agar tidak terjadi kesalahan penanganan yang dapat memperparah kondisi dan perkembangan jiwanya. Oleh karena itu, penting sekali penanganan dini bagi anak-anak autistik (Hadriami, 2002:151-152).
SUMBER: Sutarsih; 2010; Bahasa dan Autisme: Kekuatan Bahasa Menembus Kesenyapan; http://pusatbahasa.diknas.go.id/laman/nawala.php?info=artikel&infocmd=show&infoid=40&row=2; 11Maret2010
No name; 2010; Autisme; http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme; 11Maret2010
Minggu, 30 Mei 2010
down syndrome
Definisi sindrom down
Sindrom down adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.
Sindrom down (bahasa Inggris: down syndrome) merupakan kelainan kromosom yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down. Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia maka sering juga dikenal dengan Mongoloid. Pada tahun 1970an para ahli dari Amerika dan Eropa merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk penemu pertama kali syndrome ini dengan istilah sindrom down dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama.
Sindrom down merupakan kelainan kromosom yakni terbentuknya kromosom 21 (trisomy 21), Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down.
Gejala atau tanda-tanda
Gejala yang muncul akibat sindrom down dapat bervariasi mulai dari yang tidak tampak sama sekali, tampak minimal sampai muncul tanda yang khas.
Penderita dengan tanda khas sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds). Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar.
Sementara itu lapisan kulit biasanya tampak keriput (dermatoglyphics). Kelainan kromosom ini juga bisa menyebabkan gangguan atau bahkan kerusakan pada sistim organ yang lain.
Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relatf pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia, maka sering juga dikenal dengan Mongoloid.
Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa Congenital Heart Disease. kelainan ini yang biasanya berakibat fatal di mana bayi dapat meninggal dengan cepat. Pada sistim pencernaan dapat ditemui kelainan berupa sumbatan pada esophagus (esophageal atresia) atau duodenum (duodenal atresia).
Apabila anak sudah mengalami sumbatan pada organ-organ tersebut biasanya akan diikuti muntah-muntah. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi.
Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi. Sindrom down tidak bisa dicegah, karena DS merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlsh kromosm 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti, yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya DS.Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan, diagnosis pasti dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu) atau amniosentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu.
Pemeriksaan diagnostik
Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain:
• Pemeriksaan fisik penderita
• Pemeriksaan kromosom
• Ultrasonograpgy
• ECG
• Echocardiogram
• Pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling)
Penatalaksanaan
Sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi kelainan ini. Pada tahap perkembangannya penderita Down syndrom juga dapat mengalami kemunduran dari sistim penglihatan, pendengaran maupun kemampuan fisiknya mengingat tonus otot-otot yang lemah. Dengan demikian penderita harus mendapatkan dukungan maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Pembedahan biasanya dilakukan pada penderita untuk mengoreksi adanya defek pada jantung, mengingat sebagian besar penderita lebih cepat meninggal dunia akibat adanya kelainan pada jantung tersebut. Dengan adanya leukemia akut menyebabkan penderita semakin rentan terkena infeksi, sehingga penderita ini memerlukan monitoring serta pemberian terapi pencegah infeksi yang adekuat.
Sindrom down adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.
Sindrom down (bahasa Inggris: down syndrome) merupakan kelainan kromosom yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down. Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia maka sering juga dikenal dengan Mongoloid. Pada tahun 1970an para ahli dari Amerika dan Eropa merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk penemu pertama kali syndrome ini dengan istilah sindrom down dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama.
Sindrom down merupakan kelainan kromosom yakni terbentuknya kromosom 21 (trisomy 21), Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down.
Gejala atau tanda-tanda
Gejala yang muncul akibat sindrom down dapat bervariasi mulai dari yang tidak tampak sama sekali, tampak minimal sampai muncul tanda yang khas.
Penderita dengan tanda khas sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds). Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar.
Sementara itu lapisan kulit biasanya tampak keriput (dermatoglyphics). Kelainan kromosom ini juga bisa menyebabkan gangguan atau bahkan kerusakan pada sistim organ yang lain.
Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relatf pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia, maka sering juga dikenal dengan Mongoloid.
Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa Congenital Heart Disease. kelainan ini yang biasanya berakibat fatal di mana bayi dapat meninggal dengan cepat. Pada sistim pencernaan dapat ditemui kelainan berupa sumbatan pada esophagus (esophageal atresia) atau duodenum (duodenal atresia).
Apabila anak sudah mengalami sumbatan pada organ-organ tersebut biasanya akan diikuti muntah-muntah. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi.
Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi. Sindrom down tidak bisa dicegah, karena DS merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlsh kromosm 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti, yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya DS.Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan, diagnosis pasti dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu) atau amniosentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu.
Pemeriksaan diagnostik
Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain:
• Pemeriksaan fisik penderita
• Pemeriksaan kromosom
• Ultrasonograpgy
• ECG
• Echocardiogram
• Pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling)
Penatalaksanaan
Sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi kelainan ini. Pada tahap perkembangannya penderita Down syndrom juga dapat mengalami kemunduran dari sistim penglihatan, pendengaran maupun kemampuan fisiknya mengingat tonus otot-otot yang lemah. Dengan demikian penderita harus mendapatkan dukungan maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Pembedahan biasanya dilakukan pada penderita untuk mengoreksi adanya defek pada jantung, mengingat sebagian besar penderita lebih cepat meninggal dunia akibat adanya kelainan pada jantung tersebut. Dengan adanya leukemia akut menyebabkan penderita semakin rentan terkena infeksi, sehingga penderita ini memerlukan monitoring serta pemberian terapi pencegah infeksi yang adekuat.
jenis-jenis gangguan anak khusus
IDENTIFIKASI ANAK-ANAK KHUSUS :
Pengantar untuk memahami perkembangan dan perilakunya
Ditulis oleh Dra. Niken Iriani LNH,Msi,Psi
Selasa, 13 Januari 2009 19:15
Perkembangan merupakan sebuah proses perubahan menuju ke hal-hal yang lebih sempurna, maka pada setiap fasenya, seorang individu mesti sukses melakukan tugas-tugas perkembangannya, tahap demi tahap. Kegagalan seorang individu melakukan tugas perkembangannya pada suatu masa, akan menghambat kesuksesan tugas perkembangan berikutnya. Satu hal penting yang menentukan sukses tidaknya seseorang menjalankan tugas perkembangan adalah lingkungan. Lingkungan yang pertama dan utama bagi setiap seseorang adalah keluarga, intinya orang tua, lebih khusus lagi, ibu . Bagi seorang ibu, mengamati seorang anak yang sedang berkembang merupakan hal yang sangat mengasyikan. Perubahan perkembangan seorang bayi yang hanya bisa terlentang pasif, kemudian dapat tengkurap, duduk, berdiri, berjalan sampai berlari-lari dengan aktif, dan dari ketika tidak mengerti apa-apa, mengoceh, kemudian dapat berbicara, merupakan pemandangan dan peristiwa yang sangat menakjubkan. Seorang ibu cenderung akan merasa cemas manakala perkembangan anaknya tidak menunjukkan kemajuan sebagaimana yang diharapkan. Namun kadang-kadang hal yang diharapkan ini kurang pada tempatnya. Seringkali harapan muncul karena membandingkan begitu saja dengan perkembangan anak lain yang seusia. Untuk itu perlu diluruskan.
Menurut beberapa pakar psikologi bahwa tiap-tiap anak memiliki tempo/waktu dan irama perkembangan yang tidak sama. Ada anak yang memiliki tempo perkembangan cepat ada yang lambat. Ada anak yang tetap berjiwa anak, tetapi ada pula yang lekas berfikir dan bertindak seperti orang dewasa. Ada anak yang lancar proses perkembangannya pada masa kanak-kanak, ada juga yang lebih lancar pada masa remaja. Perkembangan seringkali bersifat menggelombang, bukan berjalan lurus. Pada suatu saat seseorang memiliki sifat tenang disaat berikutnya disusul sifat memberontak, goncang tapi akhirnya tenang lagi. Prinsip ini menyimpulkan bahwa anak yang memiliki umur kronologis yang sama tidak selalu mengalami taraf dan sifat-sifat perkembangan yang sama.
Perkembangan dapat dibagi menjadi perkembangan fisik, perkembangan intelektual, perkembangan bahasa dan perkembangan psikososial. Perkembangan ini merupakan suatu kesatuan yang utuh, pembagian tersebut semata-mata hanya untuk memudahkan pengamatan, diagnosis dan penanganan bila terdapat suatu penyimpangan (Hardjono, 2003). Sebuah perkembangan dikatakan mengalami penyimpangan jika menunjukkan hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya . Ke’semestian” ini, merupakan ciri perkembangan umumnya manusia. Misalnya, anak umur 2 tahun dikatakan memiliki penyimpangan fisik, jika pada usia ini dia belum mampu berjalan. Anak umur 3 tahun dikatakan memiliki penyimpangan emosi jika pada usia ini ia belum mampu diajak berkomunikasi, dsb. Berkaitan dengan hal itu, dengan demikian penyimpangan atau kelainan perkembanganpun meliputi 4 aspek, yaitu kelainan fisik, mental/intelektual, bahasa dan psikososial. Anak-anak yang mengalami penyimpangan atau kelainan ini, dikalangan profesioanl disebut dengan anak-anak khusus. Disebut demikian, selain kekhususan perkembangannya, anak-anak dengan kelainan tertentu, memiliki kebutuhan dan cara perawatan yang khusus pula. Berikut akan dibahas secara garis besar.
Kelainan fisik :
Perkembangan fisik dimulai sejak usia bayi dan berhenti ketika anak berusia sekitar 17 th. Pada masa bayi, seseorang ada pada masa ketergantungan penuh pada orang lain untuk bisa mempertahankan hidup. Pada masa ini seseorang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang menghasilkan perubahan bertahap baik dalam ukuran, bentuk tubuh, perasaan hingga perilakunya
Menurut tokoh-tokoh psikologi seperti H.E Erikson dan J. Piaget, kelainan fisik bisa meliputi terhambatnya perkembangan fungsi sensori motorik anak, utamanya dalam hal fungsi penglihatan, pendengaran dan fungsi otak. Oleh karena itu, yang tergolong dalam kelainan ini adalah :
Tuna Netra.
Tuna netra adalah orang yang memiliki ketajaman penglihatan 20/200 atau kurang pada mata yang baik, walaupun dengan memakai kacamata, atau yang daerah penglihatannya sempit sedemikian kecil sehingga yang terbesar jarak sudutnya tidak lebih dari 20 derajad (Daniel P. Hallahan dkk, 1982; hal :284, dalam Mardiati Busono, l988).
Tunanetra dapat dibagi atas dua kelompok besar, yaitu buta total dan kurang penglihatan (low vision). Orang dikatakan buta total jika tidak dapat melihat dua jari di mukanya atau hanya melihat sinar atau cahaya yang lumayan dapat dipergunakan untuk orientasi mobilitas. Mereka tidak dapat menggunakan huruf selain huruf braille. Adapun mereka yang tergolong low vision, adalah mereka yang bila melihat sesuatu, mata harus didekatkan, atau mata harus dijauhkan dari objek yang dilihatnya, atau mereka yang memiliki pemandngan kabur ketika melihat objek. Untuk mengatasi permasalahan penglihatannya, para penderita low vision ini menggunakan kacamata atau kotak lensa. Selain dua klasifikasi diatas, penggolongan tunanetra kadang-kadang didasarkan pada kapan terjadinya ketunanetraan, apakah sejak lahir, setelah umur 5 tahun, setelah remaja atau dewasa. Pembagian dengan memperhatikan tahun kemunculan ini didasarkan pada asumsi pengaruh ketunetraan terhadap aspek perkembangan yang lain. Akan tetapi menurut penelitian khusus yang dikutip oleh W.D. Wall dan diterjemahkan oleh Bratantyo (l993), bahwa problem-problem intelek, emosi dan sosial dari anak-anak tunanetra, tidak berbeda dengan anak-anak yang memiliki penglihatan sehat. Perbedaannya hanya mengarah pada tidak dimilikinya pengalaman, kecuali jika perkembangnnya diselamatkan oleh teknologi mutakhir.
Tuna Rungu.
Penderita tunarungu adalah mereka yang memiliki hambatan perkembangan indera oendengar. Tuna rungu tidak dapat mendengar suara atau bunyi. Dikarenakan tidak mampu mendengar suara atau bunyi, kemampuan berbicaranyapun kadang menjadi terganggu. Sebagaimana kita ketahui, ketrampilan berbicara seringkali ditentukan oleh seberapa sering seseorang mendengar orang lain berbicara., akibatnya anak-anak tunarungu sekaligus memiliki hambatan bicara dan menjadi bisu. Untuk berkomunikasi dengan orang lain, mereka menggunakan bahasa bibir atau bahasa isyarat. Sebagaimana anak tuna netra, mereka memiliki potensi perkembangan yang sama dengan anak-anak lain yang tidak mengalami hambatan perkembangan apapun.
Tuna daksa
Tunadaksa adalah penderita kelainan fisik, khususnya anggota badan, seperti tangan, kaki, atau bentuk tubuh. Penyimpangan perkembangan terjadi pada ukuran, bentuk atau kondisi lainnya. Sebab kondisi ini bisa bermula dari lahir, atau ketika melewati proses kanak-kanak yang mungkin disebabkan oleh obat-obatan ataupun kecelakaan. Sebenarnya, secara umum mereka memiliki peluang yang sama untuk melakukan aktualisasi diri. Namun seringkali, karena lingkungan kurang mempercayai kemampuanya, terlalu menaruh rasa iba, anak-anak tuna daksa sedikit memiliki hambatan psikologis, seperti tidak percaya diri dan tergantung pada orang lain. Akibatnya penampilan dan keberadaan mereka di kehidupan umum kurang diperhitungkan. Oleh karena itu, perlakuan yang selama ini menganggap penderita tunadaksa adalah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan untuk hidup, perlu ditinjau lagi. Dengan kemajuan teknologi sebagaimana sekarang, penderita kelainan fisik dapat memperoleh fasilitas hidup yang lebih layak dan memadai.
2. Tuna grahita/kelainan intelektual/kelainan mental
Perkembangan mental intelektual adalah perkembangan dalam hal berfikir simbolik, berfikir intuitif, berfikir praoperasional, dan perkembangan dalam hal mengolah informasi. Secara konkret perkembangan mental intelektual ini dapat kita lihat ketika anak memberikan nama kepada bonekanya, atau main lainnya, ketika anakbermain menjadi tokoh ibu atausiapapun yang diidolakannya, ketika anak mampu menggambarkan sesuatu yang ia bayangkan, ketika anak-anak menganggap mimpinya adalah sebagai sesuatu yang nyata, ketika anak menyimpulkan bahwa benda-benda matipun memiliki keinginan, perasaan dan pikiran seperti dirinya, dan bahkanketika anak sudahmampu mengklasifikan dan mengambil kesimpulan atas sesuatu konsep.
Menurut seorang tokoh psikologi perkembangan J. Piaget, perkembangan mental dimulai bersamaan dengan fungsi sensori motor, yaitu sejak usia 0 – 2 th. Dikatakan juga oleh beberapa pakar psikologi yang lain, bahwa keterkaitan kondisi fisik utamanya fungsi sensori motor dengan perkembangan mental, sungguh sangat besar. Asumsinya, dengan semakin bertambahnya kemampuan anak secara fisik, anak akan mengeksplorasi lingkungan dan menyerap informasi-infprmasi yang akan membantu perkembangan mental intelektualnya. Ada kecenderungan semakin cepat perkembangan fisik anak, kemampuan mental intelektualnyapun akan cepat berkembang.
Kelainan mental, adalah kondisi dimana seorang anak memiliki hambatan untuk dapat berfikir sebagaimana di atas tadi. Atau kalaupun mampu, maka kwalitas hasil berfikirkan jauh dari yang diharapkan. Ada tidaknya kelainan mental intelektual secara pasti ditunjukkan oleh hasil tes psikologi, utamanya tes inteligensi.
Dari tes tsb akan diperoleh gambaran, apakah seseorang memiliki taraf kecerdasan rata-rata ( 90 – 109), di bawah (39 – 89) atau di atasnya (140-169). Seseorang dikatakan memiliki penyimpangan intelektual jika memiliki angka kecerdasan di bawah rata-rata dan genius. Menurut Azwar ( l996), dari sejarah penyebabnya, kelainan mental terbagi atas 2 macam, yaitu lemah mental dan cacat mental. Penderita lemah mental biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan fisik, tidak mempunyai sejarah penyakit atau luka yang menyebabkan kerusakan mentalnya. Dengan kata lain kelemahan mental yang diderita tidak mempunyai dasar organik, namun seringkali didapati bahwa penderita memang mempunyai garis retardasi mental dalam keluarganya.
Adapun pada penderita cacat mental, kelainan ini disebabkan oleh terjadinya luka di otak, penyakit atau kecelakaan yang mengakibatkan pertumbuhan mentalnya tidak normal. Penyebab tersebut bisa terjadi sewaktu masih dalam kandungan, semasa masih kanak-kanak, bahkan setelah menjelang dewasa.
Secara gradasi dapat diketahui, bahwa kelainan mental cukup variatif yaitu sebagai berikut :
Moron : IQ : 50 –70
Imbesil IQ : 25 – 50
Idiot IQ : di bawah 25.
Menurut Telford dan Sawrey (dalam Azwar, l998), selain tingkat inteligensi, beberapa kriteria dalam identifikasi kelainan mental ini ditentukan juga oleh kriteria perilaku adaptif, kriteria kemampuan belajar, dan kriteria penyesuaian sosial .
3. Keterlambatan dan Kelainan bahasa
Menurut para pakar, perkembangan fungsi berbahasa merupakan proses paling kompleks diantara seluruh fase perkembangan (Hardiono Pusponegoro, 2003). Fungsi berbahasa seringkali menjadi indikator paling baik dari ada tidaknya gangguan perkembangan intelek. Bersama-sama dengan perkembangan sensori motorik, perkembangan fungsi bahasa akan menjadi fungsi perkembangan sosial.
Perkembangan bahasa memerlukan fungsi reseptif dan ekspresif. Fungsi reseptif adalah kemampuan anak untuk mengenal dan bereaksi terhadap seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti maksud mimik dan nada suaru dan akhirnya mengerti kata-kata. Fungsi ekspresif adalah kemampuan anak untuk mengutarakan pikirnnya, dimulai dari komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi dengan ekspresi wajah, gerakan tubuh dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata. Kemungkinan adanya kesulitan berbahasa harus difikirkan bila seorang anak terlambat mencapai tahapan unit bahasa yang sesuai untuk umurnya. Unit bahasa tersebut dapat berupa suara, kata, dan kalimat. Selanjutnya fungsi berbahasa diatur pula oleh aturan tata bahasa, yaitu bagaimana suara membentuk kata, kata membentuk kalimat yang benar dan seterusnya. Keterlambatan bicara terjadi pada 3-15% anak, dan merupakan kelainan perkembangan yang paling sering terjadi. Sebanyak 1% anak yang mengalami keterlambatan bicara, tetap tidak dapat bicara. Tiga puluh persen diantara anak yang mengalami keterlambatan ringan akan sembuh sendiri, tetapi 70% diantaranya akan mengalami kesulitan berbahasa, kurang pandai atau berbagai kesulitan belajar lainnya. Seorang anak mengalami keterlambatan perkembangan bahasa jika :
tidak mau tersenyum sosial sampai 10 minggu , tidak mengeluarkan suara sebagai jawaban pada usia 3 bulan
Tidak ada perhatian terhadap sekitar sampai usia 8 bulan
Tidak bicara sampai usia 15 bulan
Tidak mengucapkan 3-4 kata sampai usia 20 bulan
Penyebab gangguan bicara dan berbahasa ini antara lain karena :
* Sistim syaraf pusat ( otak ): termasuk ini adalah kelainan mental, autism, gangguan perhatian, serta kerusakan otak.
* Adanya gangguan pendengaran, gangguan penglihatan maupun kelainan organ bicara.
* Faktor emosi dan lingkungan : yaitu anak tidak mendapat rangsang yang cukup dari lingkungannya . Bilamana anak yang kurang mendapat stimulasi tersebut juga mengalami kurang makan atau child abuse, maka kelainan berbahasa dapat lebih berat karena penyebabnya bukan deprivasi semata-mata tetapi juga kelainan saraf karena kurang gizi atau child abus,. mutisme selektif, biasanya terlihat pada anak berumur 3-5 tahun, yaitu tidak mau bicara pada keadaan tertentu, misalnya di sekolah atau bila ada orang tertentu. Atau kadang-kadang ia hanya mau bicara pada orang tertentu, biasanya anak yang lebih tua. Keadaan ini lebih banyak dihubungkan dengan kelainan yang disebut sebagai neurosis atau gangguan motivasi.
* Kumulatif faktor di atas
4. Kelainan psikososial
Perkembangan psikososial adalah perkembangan yang berhubungan dengan pemahaman seorang individu atas situasi sosial di lingkungannya. Secara riil, psikososial ini meliputi bagaimana seseorang mengetahui apa yang dirasakan orang lain, bagaimana mengekspresikan perasaannya dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungannya. Selain itu, psikososial juga berkaitan dengan kemampuan seorang anak melepaskan diri dari ibu atau orang penting didekatnya dan melakukan tugas-tugas yang diberikan secara mandiri. Pada saat yang bersamaan, perkembangan psikososial ini juga meliputi pemahaman seorang anak atas peraturan-peraturan yang ada di sekitarnya.
Dengan demikian yang dimaksud dengan kelainan psikososial adalah kelainan-kelainan yang berhubungan dengan fungsi emosi, dan perhatian terhadap sekitarnya. aya.
Beberapa penyimpangan atau kelainan perilaku yang muncul berkaitan dengan fungsi-fungsi ini antara lain adalah :
* Gangguan emosi, gangguan emosi tampak melalui perilaku ekstrim seperti terlalu agresif, terlalu menarik diri, berteriak, diam seribu bahasa, terlalu gembira atau terlalu sedih. Perilaku ekstrim ini muncul dalam tempo yang tidak sebentar dan dalam situasi yang tidak tepat. Masyarakat kadang-kadang membeei label pada mereka yang memiliki hambatan ini dengan sebutan “anak nakal” misalnya.
* Gangguan perhatian, gangguan perhatian tampak sebagai kesulitan seorang anak dalam memberikan perhatian terhadap objek disekitarnya, sekalipun dalam waktu tidak lama. Termasuk dalam kelainan ini adalah hiperaktif, sulit memusatkan perhatian (adhd) dan autism. Secara sekilas, penyandang gangguan ini dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut diatas dapat timbul secara bersamaan, sehingga dapat dikatakan bahwa anak-anak yang memiliki gangguan perhatian ini termasuk memiliki gangguan yang kompleks. Untuk memastikan apakah seorang anak memiliki gangguan perhatian ini, utamanya autism, perlu dilakukan oleh dokter, psikolog, terapis, guru dan utamanya keterangan orang tua, mengenai sejarah perkembangannya.
Deteksi kelainan perkembangan dapat dilakukan oleh orang tua sejak dini. Semakin cepat orang tua menemukan kelainan-kelainan pada anaknya akan semakin baik dan mudah penanganannya. Sebagaimana dikatakan para pakar bahwa ada tidaknya perubahan kwalitas perkembangan anak sedikit banyak adalah hasil dari pembiasaan yang diterapkan oleh orang tuanya. Seorang anak yang terbiasa mendapati lingkungan yang menyenangkan (hawa udara, cahaya, suara) dan tidak mengalami hal-hal yang menakutkan atau serba tidak menentu akan cenderung menumbuhkan perasaan mempercayai sesuatu. Sebaliknya, jika seorang anak dibesarkan oleh kebiasaan yang tidak menyenangkan, ia akan tumbuh menjadi anak yang mudah curiga atau tidak mempercayai sesuatu, dingin dan acuh tak acuh . Bahkan diduga, mereka yang tidak mendapatkan hal-hal yang menyenangkan akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak memiliki belas kasih.
H.Erikson (dalam Gunarsa, l980), mengatakan bahwa kuncinya adalah pada fungsi pengindraan sebagai alat pertama untuk melakukan hubungan dan pengalaman sosial yang pada muaranya mempengaruhi reaksi dan sikap seseorang di kemudian hari. Karena anak atau bayi paling sering memperoleh makanan melalui mulut, maka ia berhadapan pertama kali dengan lingkungan sosialnya melalui mulut. Anak akan merasakan hubungan-2 sosial yang pertama ini melalui hal-hal yang kualitatis daripada hal-hal yang kuantitatif, seperti seringnya memperoleh makanan. Dengan kata lain anak akan merasakan kehangatan cinta kasih dari ibu atau pengasuhnya, melalui caranya memberikan makanan, caranya menyusui , caranya mengajak tertawa dan berbicara dengan anak maupun cara-cara yang lain, yang ditunjukkan untuk menyatakan keberadaan si anak. Pengalaman ini untuk selanjutnya akan menjadi bekal bagi anak atau seseorang ketika melalui hari-hari panjangnya yang lebih kompleks di kemudian hari, manakala ia melewati fase-fase berikutnya.
Ternyata, ketidakberdayaan akan berubah menjadi digjaya, manakala perhatian dan kepedulian diberikan oleh orang-orang terkasih….
Pengantar untuk memahami perkembangan dan perilakunya
Ditulis oleh Dra. Niken Iriani LNH,Msi,Psi
Selasa, 13 Januari 2009 19:15
Perkembangan merupakan sebuah proses perubahan menuju ke hal-hal yang lebih sempurna, maka pada setiap fasenya, seorang individu mesti sukses melakukan tugas-tugas perkembangannya, tahap demi tahap. Kegagalan seorang individu melakukan tugas perkembangannya pada suatu masa, akan menghambat kesuksesan tugas perkembangan berikutnya. Satu hal penting yang menentukan sukses tidaknya seseorang menjalankan tugas perkembangan adalah lingkungan. Lingkungan yang pertama dan utama bagi setiap seseorang adalah keluarga, intinya orang tua, lebih khusus lagi, ibu . Bagi seorang ibu, mengamati seorang anak yang sedang berkembang merupakan hal yang sangat mengasyikan. Perubahan perkembangan seorang bayi yang hanya bisa terlentang pasif, kemudian dapat tengkurap, duduk, berdiri, berjalan sampai berlari-lari dengan aktif, dan dari ketika tidak mengerti apa-apa, mengoceh, kemudian dapat berbicara, merupakan pemandangan dan peristiwa yang sangat menakjubkan. Seorang ibu cenderung akan merasa cemas manakala perkembangan anaknya tidak menunjukkan kemajuan sebagaimana yang diharapkan. Namun kadang-kadang hal yang diharapkan ini kurang pada tempatnya. Seringkali harapan muncul karena membandingkan begitu saja dengan perkembangan anak lain yang seusia. Untuk itu perlu diluruskan.
Menurut beberapa pakar psikologi bahwa tiap-tiap anak memiliki tempo/waktu dan irama perkembangan yang tidak sama. Ada anak yang memiliki tempo perkembangan cepat ada yang lambat. Ada anak yang tetap berjiwa anak, tetapi ada pula yang lekas berfikir dan bertindak seperti orang dewasa. Ada anak yang lancar proses perkembangannya pada masa kanak-kanak, ada juga yang lebih lancar pada masa remaja. Perkembangan seringkali bersifat menggelombang, bukan berjalan lurus. Pada suatu saat seseorang memiliki sifat tenang disaat berikutnya disusul sifat memberontak, goncang tapi akhirnya tenang lagi. Prinsip ini menyimpulkan bahwa anak yang memiliki umur kronologis yang sama tidak selalu mengalami taraf dan sifat-sifat perkembangan yang sama.
Perkembangan dapat dibagi menjadi perkembangan fisik, perkembangan intelektual, perkembangan bahasa dan perkembangan psikososial. Perkembangan ini merupakan suatu kesatuan yang utuh, pembagian tersebut semata-mata hanya untuk memudahkan pengamatan, diagnosis dan penanganan bila terdapat suatu penyimpangan (Hardjono, 2003). Sebuah perkembangan dikatakan mengalami penyimpangan jika menunjukkan hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya . Ke’semestian” ini, merupakan ciri perkembangan umumnya manusia. Misalnya, anak umur 2 tahun dikatakan memiliki penyimpangan fisik, jika pada usia ini dia belum mampu berjalan. Anak umur 3 tahun dikatakan memiliki penyimpangan emosi jika pada usia ini ia belum mampu diajak berkomunikasi, dsb. Berkaitan dengan hal itu, dengan demikian penyimpangan atau kelainan perkembanganpun meliputi 4 aspek, yaitu kelainan fisik, mental/intelektual, bahasa dan psikososial. Anak-anak yang mengalami penyimpangan atau kelainan ini, dikalangan profesioanl disebut dengan anak-anak khusus. Disebut demikian, selain kekhususan perkembangannya, anak-anak dengan kelainan tertentu, memiliki kebutuhan dan cara perawatan yang khusus pula. Berikut akan dibahas secara garis besar.
Kelainan fisik :
Perkembangan fisik dimulai sejak usia bayi dan berhenti ketika anak berusia sekitar 17 th. Pada masa bayi, seseorang ada pada masa ketergantungan penuh pada orang lain untuk bisa mempertahankan hidup. Pada masa ini seseorang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang menghasilkan perubahan bertahap baik dalam ukuran, bentuk tubuh, perasaan hingga perilakunya
Menurut tokoh-tokoh psikologi seperti H.E Erikson dan J. Piaget, kelainan fisik bisa meliputi terhambatnya perkembangan fungsi sensori motorik anak, utamanya dalam hal fungsi penglihatan, pendengaran dan fungsi otak. Oleh karena itu, yang tergolong dalam kelainan ini adalah :
Tuna Netra.
Tuna netra adalah orang yang memiliki ketajaman penglihatan 20/200 atau kurang pada mata yang baik, walaupun dengan memakai kacamata, atau yang daerah penglihatannya sempit sedemikian kecil sehingga yang terbesar jarak sudutnya tidak lebih dari 20 derajad (Daniel P. Hallahan dkk, 1982; hal :284, dalam Mardiati Busono, l988).
Tunanetra dapat dibagi atas dua kelompok besar, yaitu buta total dan kurang penglihatan (low vision). Orang dikatakan buta total jika tidak dapat melihat dua jari di mukanya atau hanya melihat sinar atau cahaya yang lumayan dapat dipergunakan untuk orientasi mobilitas. Mereka tidak dapat menggunakan huruf selain huruf braille. Adapun mereka yang tergolong low vision, adalah mereka yang bila melihat sesuatu, mata harus didekatkan, atau mata harus dijauhkan dari objek yang dilihatnya, atau mereka yang memiliki pemandngan kabur ketika melihat objek. Untuk mengatasi permasalahan penglihatannya, para penderita low vision ini menggunakan kacamata atau kotak lensa. Selain dua klasifikasi diatas, penggolongan tunanetra kadang-kadang didasarkan pada kapan terjadinya ketunanetraan, apakah sejak lahir, setelah umur 5 tahun, setelah remaja atau dewasa. Pembagian dengan memperhatikan tahun kemunculan ini didasarkan pada asumsi pengaruh ketunetraan terhadap aspek perkembangan yang lain. Akan tetapi menurut penelitian khusus yang dikutip oleh W.D. Wall dan diterjemahkan oleh Bratantyo (l993), bahwa problem-problem intelek, emosi dan sosial dari anak-anak tunanetra, tidak berbeda dengan anak-anak yang memiliki penglihatan sehat. Perbedaannya hanya mengarah pada tidak dimilikinya pengalaman, kecuali jika perkembangnnya diselamatkan oleh teknologi mutakhir.
Tuna Rungu.
Penderita tunarungu adalah mereka yang memiliki hambatan perkembangan indera oendengar. Tuna rungu tidak dapat mendengar suara atau bunyi. Dikarenakan tidak mampu mendengar suara atau bunyi, kemampuan berbicaranyapun kadang menjadi terganggu. Sebagaimana kita ketahui, ketrampilan berbicara seringkali ditentukan oleh seberapa sering seseorang mendengar orang lain berbicara., akibatnya anak-anak tunarungu sekaligus memiliki hambatan bicara dan menjadi bisu. Untuk berkomunikasi dengan orang lain, mereka menggunakan bahasa bibir atau bahasa isyarat. Sebagaimana anak tuna netra, mereka memiliki potensi perkembangan yang sama dengan anak-anak lain yang tidak mengalami hambatan perkembangan apapun.
Tuna daksa
Tunadaksa adalah penderita kelainan fisik, khususnya anggota badan, seperti tangan, kaki, atau bentuk tubuh. Penyimpangan perkembangan terjadi pada ukuran, bentuk atau kondisi lainnya. Sebab kondisi ini bisa bermula dari lahir, atau ketika melewati proses kanak-kanak yang mungkin disebabkan oleh obat-obatan ataupun kecelakaan. Sebenarnya, secara umum mereka memiliki peluang yang sama untuk melakukan aktualisasi diri. Namun seringkali, karena lingkungan kurang mempercayai kemampuanya, terlalu menaruh rasa iba, anak-anak tuna daksa sedikit memiliki hambatan psikologis, seperti tidak percaya diri dan tergantung pada orang lain. Akibatnya penampilan dan keberadaan mereka di kehidupan umum kurang diperhitungkan. Oleh karena itu, perlakuan yang selama ini menganggap penderita tunadaksa adalah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan untuk hidup, perlu ditinjau lagi. Dengan kemajuan teknologi sebagaimana sekarang, penderita kelainan fisik dapat memperoleh fasilitas hidup yang lebih layak dan memadai.
2. Tuna grahita/kelainan intelektual/kelainan mental
Perkembangan mental intelektual adalah perkembangan dalam hal berfikir simbolik, berfikir intuitif, berfikir praoperasional, dan perkembangan dalam hal mengolah informasi. Secara konkret perkembangan mental intelektual ini dapat kita lihat ketika anak memberikan nama kepada bonekanya, atau main lainnya, ketika anakbermain menjadi tokoh ibu atausiapapun yang diidolakannya, ketika anak mampu menggambarkan sesuatu yang ia bayangkan, ketika anak-anak menganggap mimpinya adalah sebagai sesuatu yang nyata, ketika anak menyimpulkan bahwa benda-benda matipun memiliki keinginan, perasaan dan pikiran seperti dirinya, dan bahkanketika anak sudahmampu mengklasifikan dan mengambil kesimpulan atas sesuatu konsep.
Menurut seorang tokoh psikologi perkembangan J. Piaget, perkembangan mental dimulai bersamaan dengan fungsi sensori motor, yaitu sejak usia 0 – 2 th. Dikatakan juga oleh beberapa pakar psikologi yang lain, bahwa keterkaitan kondisi fisik utamanya fungsi sensori motor dengan perkembangan mental, sungguh sangat besar. Asumsinya, dengan semakin bertambahnya kemampuan anak secara fisik, anak akan mengeksplorasi lingkungan dan menyerap informasi-infprmasi yang akan membantu perkembangan mental intelektualnya. Ada kecenderungan semakin cepat perkembangan fisik anak, kemampuan mental intelektualnyapun akan cepat berkembang.
Kelainan mental, adalah kondisi dimana seorang anak memiliki hambatan untuk dapat berfikir sebagaimana di atas tadi. Atau kalaupun mampu, maka kwalitas hasil berfikirkan jauh dari yang diharapkan. Ada tidaknya kelainan mental intelektual secara pasti ditunjukkan oleh hasil tes psikologi, utamanya tes inteligensi.
Dari tes tsb akan diperoleh gambaran, apakah seseorang memiliki taraf kecerdasan rata-rata ( 90 – 109), di bawah (39 – 89) atau di atasnya (140-169). Seseorang dikatakan memiliki penyimpangan intelektual jika memiliki angka kecerdasan di bawah rata-rata dan genius. Menurut Azwar ( l996), dari sejarah penyebabnya, kelainan mental terbagi atas 2 macam, yaitu lemah mental dan cacat mental. Penderita lemah mental biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan fisik, tidak mempunyai sejarah penyakit atau luka yang menyebabkan kerusakan mentalnya. Dengan kata lain kelemahan mental yang diderita tidak mempunyai dasar organik, namun seringkali didapati bahwa penderita memang mempunyai garis retardasi mental dalam keluarganya.
Adapun pada penderita cacat mental, kelainan ini disebabkan oleh terjadinya luka di otak, penyakit atau kecelakaan yang mengakibatkan pertumbuhan mentalnya tidak normal. Penyebab tersebut bisa terjadi sewaktu masih dalam kandungan, semasa masih kanak-kanak, bahkan setelah menjelang dewasa.
Secara gradasi dapat diketahui, bahwa kelainan mental cukup variatif yaitu sebagai berikut :
Moron : IQ : 50 –70
Imbesil IQ : 25 – 50
Idiot IQ : di bawah 25.
Menurut Telford dan Sawrey (dalam Azwar, l998), selain tingkat inteligensi, beberapa kriteria dalam identifikasi kelainan mental ini ditentukan juga oleh kriteria perilaku adaptif, kriteria kemampuan belajar, dan kriteria penyesuaian sosial .
3. Keterlambatan dan Kelainan bahasa
Menurut para pakar, perkembangan fungsi berbahasa merupakan proses paling kompleks diantara seluruh fase perkembangan (Hardiono Pusponegoro, 2003). Fungsi berbahasa seringkali menjadi indikator paling baik dari ada tidaknya gangguan perkembangan intelek. Bersama-sama dengan perkembangan sensori motorik, perkembangan fungsi bahasa akan menjadi fungsi perkembangan sosial.
Perkembangan bahasa memerlukan fungsi reseptif dan ekspresif. Fungsi reseptif adalah kemampuan anak untuk mengenal dan bereaksi terhadap seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti maksud mimik dan nada suaru dan akhirnya mengerti kata-kata. Fungsi ekspresif adalah kemampuan anak untuk mengutarakan pikirnnya, dimulai dari komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi dengan ekspresi wajah, gerakan tubuh dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata. Kemungkinan adanya kesulitan berbahasa harus difikirkan bila seorang anak terlambat mencapai tahapan unit bahasa yang sesuai untuk umurnya. Unit bahasa tersebut dapat berupa suara, kata, dan kalimat. Selanjutnya fungsi berbahasa diatur pula oleh aturan tata bahasa, yaitu bagaimana suara membentuk kata, kata membentuk kalimat yang benar dan seterusnya. Keterlambatan bicara terjadi pada 3-15% anak, dan merupakan kelainan perkembangan yang paling sering terjadi. Sebanyak 1% anak yang mengalami keterlambatan bicara, tetap tidak dapat bicara. Tiga puluh persen diantara anak yang mengalami keterlambatan ringan akan sembuh sendiri, tetapi 70% diantaranya akan mengalami kesulitan berbahasa, kurang pandai atau berbagai kesulitan belajar lainnya. Seorang anak mengalami keterlambatan perkembangan bahasa jika :
tidak mau tersenyum sosial sampai 10 minggu , tidak mengeluarkan suara sebagai jawaban pada usia 3 bulan
Tidak ada perhatian terhadap sekitar sampai usia 8 bulan
Tidak bicara sampai usia 15 bulan
Tidak mengucapkan 3-4 kata sampai usia 20 bulan
Penyebab gangguan bicara dan berbahasa ini antara lain karena :
* Sistim syaraf pusat ( otak ): termasuk ini adalah kelainan mental, autism, gangguan perhatian, serta kerusakan otak.
* Adanya gangguan pendengaran, gangguan penglihatan maupun kelainan organ bicara.
* Faktor emosi dan lingkungan : yaitu anak tidak mendapat rangsang yang cukup dari lingkungannya . Bilamana anak yang kurang mendapat stimulasi tersebut juga mengalami kurang makan atau child abuse, maka kelainan berbahasa dapat lebih berat karena penyebabnya bukan deprivasi semata-mata tetapi juga kelainan saraf karena kurang gizi atau child abus,. mutisme selektif, biasanya terlihat pada anak berumur 3-5 tahun, yaitu tidak mau bicara pada keadaan tertentu, misalnya di sekolah atau bila ada orang tertentu. Atau kadang-kadang ia hanya mau bicara pada orang tertentu, biasanya anak yang lebih tua. Keadaan ini lebih banyak dihubungkan dengan kelainan yang disebut sebagai neurosis atau gangguan motivasi.
* Kumulatif faktor di atas
4. Kelainan psikososial
Perkembangan psikososial adalah perkembangan yang berhubungan dengan pemahaman seorang individu atas situasi sosial di lingkungannya. Secara riil, psikososial ini meliputi bagaimana seseorang mengetahui apa yang dirasakan orang lain, bagaimana mengekspresikan perasaannya dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungannya. Selain itu, psikososial juga berkaitan dengan kemampuan seorang anak melepaskan diri dari ibu atau orang penting didekatnya dan melakukan tugas-tugas yang diberikan secara mandiri. Pada saat yang bersamaan, perkembangan psikososial ini juga meliputi pemahaman seorang anak atas peraturan-peraturan yang ada di sekitarnya.
Dengan demikian yang dimaksud dengan kelainan psikososial adalah kelainan-kelainan yang berhubungan dengan fungsi emosi, dan perhatian terhadap sekitarnya. aya.
Beberapa penyimpangan atau kelainan perilaku yang muncul berkaitan dengan fungsi-fungsi ini antara lain adalah :
* Gangguan emosi, gangguan emosi tampak melalui perilaku ekstrim seperti terlalu agresif, terlalu menarik diri, berteriak, diam seribu bahasa, terlalu gembira atau terlalu sedih. Perilaku ekstrim ini muncul dalam tempo yang tidak sebentar dan dalam situasi yang tidak tepat. Masyarakat kadang-kadang membeei label pada mereka yang memiliki hambatan ini dengan sebutan “anak nakal” misalnya.
* Gangguan perhatian, gangguan perhatian tampak sebagai kesulitan seorang anak dalam memberikan perhatian terhadap objek disekitarnya, sekalipun dalam waktu tidak lama. Termasuk dalam kelainan ini adalah hiperaktif, sulit memusatkan perhatian (adhd) dan autism. Secara sekilas, penyandang gangguan ini dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut diatas dapat timbul secara bersamaan, sehingga dapat dikatakan bahwa anak-anak yang memiliki gangguan perhatian ini termasuk memiliki gangguan yang kompleks. Untuk memastikan apakah seorang anak memiliki gangguan perhatian ini, utamanya autism, perlu dilakukan oleh dokter, psikolog, terapis, guru dan utamanya keterangan orang tua, mengenai sejarah perkembangannya.
Deteksi kelainan perkembangan dapat dilakukan oleh orang tua sejak dini. Semakin cepat orang tua menemukan kelainan-kelainan pada anaknya akan semakin baik dan mudah penanganannya. Sebagaimana dikatakan para pakar bahwa ada tidaknya perubahan kwalitas perkembangan anak sedikit banyak adalah hasil dari pembiasaan yang diterapkan oleh orang tuanya. Seorang anak yang terbiasa mendapati lingkungan yang menyenangkan (hawa udara, cahaya, suara) dan tidak mengalami hal-hal yang menakutkan atau serba tidak menentu akan cenderung menumbuhkan perasaan mempercayai sesuatu. Sebaliknya, jika seorang anak dibesarkan oleh kebiasaan yang tidak menyenangkan, ia akan tumbuh menjadi anak yang mudah curiga atau tidak mempercayai sesuatu, dingin dan acuh tak acuh . Bahkan diduga, mereka yang tidak mendapatkan hal-hal yang menyenangkan akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak memiliki belas kasih.
H.Erikson (dalam Gunarsa, l980), mengatakan bahwa kuncinya adalah pada fungsi pengindraan sebagai alat pertama untuk melakukan hubungan dan pengalaman sosial yang pada muaranya mempengaruhi reaksi dan sikap seseorang di kemudian hari. Karena anak atau bayi paling sering memperoleh makanan melalui mulut, maka ia berhadapan pertama kali dengan lingkungan sosialnya melalui mulut. Anak akan merasakan hubungan-2 sosial yang pertama ini melalui hal-hal yang kualitatis daripada hal-hal yang kuantitatif, seperti seringnya memperoleh makanan. Dengan kata lain anak akan merasakan kehangatan cinta kasih dari ibu atau pengasuhnya, melalui caranya memberikan makanan, caranya menyusui , caranya mengajak tertawa dan berbicara dengan anak maupun cara-cara yang lain, yang ditunjukkan untuk menyatakan keberadaan si anak. Pengalaman ini untuk selanjutnya akan menjadi bekal bagi anak atau seseorang ketika melalui hari-hari panjangnya yang lebih kompleks di kemudian hari, manakala ia melewati fase-fase berikutnya.
Ternyata, ketidakberdayaan akan berubah menjadi digjaya, manakala perhatian dan kepedulian diberikan oleh orang-orang terkasih….
anak indigo
REFLEKSI ANAK INDIGO DALAM PEREMPUAN MENCARI TUHAN
15/11/2009
Resti Nurfaidah
Abstrak
Anak indigo merupakan fenomena abad neew age, abad milenium. Anak-anak tersebut kerapkali menunjukkan karakter yang cenderung aneh. Terkadang, kehadiran mereka kerapkali menjadi bumerang bagi lingkungan sekitarnya. Bahkan, mereka sering dicap sebagai anak yang berperilaku menyimpang. Terlebih lagi bagi orang tua yang tidak sabar cenderung membawa anak indigo ke pusat rehabilitasi mental. Salah satu sebab yang membedakan anak indigo dengan anak lainnya adalah mereka senantiasa menunjukkan perilaku yang aneh. Padahal, tanpa mereka sadari kebanyakan anak indigo memiliki intelegensi di atas rata-rata atau bahkan kemampuan yang belum tentu dapat dimiliki anak sebayanya. Sementara itu salah seorang psikoterapis senior di Indonesia mengatakan bahwa anak indigo merupakan anak yang abnormal karena terjadinya kerusakan pada sistem otak. Sehubungan dengan hal itu, anak indigo harus mendapatkan penanganan yang tepat sejak awal dan mereka harus dianggap sebagai anak biasa. Berbeda dengan kondisi di negeri ini, Amerika menjadikan anak indigo sebagai aset yang sangat berharga. Di sana anak indigo dilibatkan dalam penanganan kasus kriminal. Semakin maraknya fenomena anak indigo tersebut, banyak penulis yang mengangkat hal itu ke dalam karya mereka. Salah satu di antaranya, dapat kita temukan dalam novel Perempuan Mencari Tuhan yang ditulis oleh Yudhistira. Novel tersebut bercerita tentang konflik antara anak indigo dan lingkungan sekitarnya. Lingkungan tersebut menunjukkan sikap tidak berterima kepada anak indigo. Tokoh Ganet menjadi korban ketidakberterimaan atas kelebihan yang dimilikinya. Hal itu menimbulkan kekecewaan dalam diri Ganet dan ia tidak bisa menerima kondisi itu. Hal itu tanpa sengaja membawanya menuju pintu gerbang pencarian jalan menuju Tuhan. Sayang sekali, Tuhan Mahakuasa yang ingin ia temui didapatinya di penghujung ajalnya. Novel tersebut sarat dengan penyampaian konflik antara lingkungan dan anak istimewa itu.
Kata kunci: anak indigo, ketidakberterimaan lingkungan, dan konflik
Abstract
Indigo children is one of the new age phenomenon. They sometimes showing as ones with some bad characters. Sometimes, their appearance is being a boomerang for their environtment. Even, they are accepted as children with psychological disorder. Most dispassionated parents take them to the mental rehabilitation center. One of the reasons is the indigo children always show their abnormal action. Whereas, they mostly have high standard of intelligence or the skill that not everyone can do. One of Indonesia senior psychiatrician said that actually the indigo children is abnormal ones because of their brain damage. Because of that, the indigo children must have right theraphy and are accepted to be normal ones. Meanwhile, another said that they can be useful state asset as America does. There, they are involved in the investigation of the crime. The reflection of indigo Children can be found in Perempuan Mencari Tuhan—a novel by Yudhistira. It is told us about the conflict between those indigo children and their environment. Bad acceptance emerges those conflict. Ganet, one of them, is a victim of unacceptance of her environment towards the skill that she has. She is very disappointed with it and can’t stand with the condition. This opens the gateway of exploring God, the Almighty that is at least she found in time with the coming her death. This writing is describing about the conflict of indigo children in the novel.
Key word: indigo children, environment unacceptance, and conflict
1. Pendahuluan
Sejak peralihan ke era milenium, kasus kehadiran anak indigo semakin merebak di berbagai belahan dunia. Anak indigo adalah sebuah istilah baru yang dicetuskan oleh Nancy Ann Tappe, seorang konselor, pada tahun 1980-an, untuk cahaya berwarna perpaduan antara biru dan merah yang menyelimuti tubuh seorang anak (Bataviase:2007). Perpaduan kedua warna itu terletak tepat di kening bagian tengah, di antara kedua alis mata.
Anak indigo sekilas tampak sama dengan anak-anak pada umumnya. Namun, jika diperhatikan lebih saksama tampak jelas perbedaannya. Gaya pembicaraan mereka cenderung seperti orang tua, sulit beradaptasi dengan teman sebaya, dan peka terhadap hal-hal yang terjadi di luar kemampuan manusia pada umumnya. Menurut Tobler (dalam Bataviase:2007), anak indigo memiliki beberapa karakter berikut:
1. mereka datang ke dunia dengan rasa ingin berbagi;
2. mereka menghayati hak keberadaannya di dunia ini dan heran bila ada yang menolaknya;
3. dirinya bukanlah yang utama, seringkali menyampaikan ‘siapa jati dirinya’ kepada orang tuanya;
4. sulit menerima otoritas mutlak tanpa alasan;
5. tidak mau/sulit menunggu giliran;
6. mereka kecewa bila menghadapi ritual dan hal-hal yang tidak memerlukan pemikiran yang kreatif;
7. seringkali mereka menemukan cara-cara yang lebih tepat, baik di sekolah maupun di rumah sehingga menimbulkan kesan “non konformistis” terhadap sistem yang berlaku;
8. tampak seperti antisosial, terasing kecuali di lingkungannya, sekolah seringkali menjadi amat sulit untuk mereka bersosialisasi;
9. tidak berespons terhadap aturan-aturan kaku (mis.: “tunggu sampai ayahmu pulang”);
10. tidak malu untuk meminta apa yang dibutuhkannya (banyak teori yang membahas masalah ini).
Akibat segala kelebihan yang dimiliki mereka, anak indigo kebanyakan justru menghadapi posisi dan kondisi yang sulit dalam hidupnya. Gaya pikiran yang cenderung futuristik serta perilaku yang lebih dewasa daripada teman sebayanya, membuat anak indigo kerapkali mengalami ketidakberterimaan dari lingkungannya, termasuk lingkungan terdekat atau keluarga sekalipun.
Beberapa pakar metafisika dan psikiater menyatakan bahwa sistem pendidikan kita belum dapat mengakomodasi kebutuhan anak indigo sehingga mereka mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan guru dan teman-teman sebayanya. “Penolakan” yang bertubi-tubi itulah yang menyeret sebagian besar anak indigo pada frustasi. Emosi yang cenderung labil dan tiadanya tempat untuk mengaktualisasikan diri sepenuhnya mengakibatkan anak indigo cenderung mencoba cara alternatif yang negatif, misalnya menjadi pemakai obat-obatan terlarang atau penderita depresi.
Jika sistem pendidikan belum menerima keberadaan mereka, para pakar kejiwaan dan metafisika menyarankan bahwa diperlukan suatu wadah yang dapat menampung aktualisasi anak indigo yang pada umumnya dikaruniai satu atau banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak sebayanya. Sebenarnya kita selama ini menganggap bahwa anak indigo tersebut sama satu sama lain. Padahal, tidak demikian. Ada empat tipe anak indigo dengan kelebihan masing-masing. Tipe pertama adalah tipe interdimensional, yakni anak indigo yang memiliki ketajaman indra keenam. Ada pula tipe artis. Anak indigo dari tipe ini amat menonjol di bidang seni dan sastra. Lalu, ada tipe humanis yang mempunyai kelebihan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Biasanya mereka menggunakan kemampuannya untuk menolong orang lain. Tipe terakhir adalah tipe konseptual. Mereka amat menonjol dalam merancang suatu program, misalnya dalam rangka menyelamatkan perusahaan yang akan bangkrut atau membuat usaha baru yang booming dan mendatangkan keuntungan finansial bagi banyak orang. Selain keempat tipe tadi, kadar indigo setiap orang juga sangat berbeda. Sehubungan dengan hal itu, penanganan yang diperlukan bagi setiap anak indigo pun berbeda-beda (Megarini dalam Eriyanti, 2009:17).
Berdasarkan keempat tipe indigo tadi, sudah selayaknya anak indigo mendapatkan tempat yang tepat dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan, ada pula beberapa pakar yang menyatakan bahwa anak indigo dapat dijadikan sebagai aset negara, seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat. Lembaga pendidikan khusus anak indigo pun banyak didirikan di benua itu. Banyak pula anak indigo yang dilibatkan dalam tugas-tugas yang berkaitan dengan kriminal dengan mengandalkan kepekaan luar biasa yang dimiliki mereka.
Banyak perdebatan yang terjadi di kalangan pakar kejiwaan, psikologi, dan metafisika tentang kasus anak indigo tersebut. Sebagian mengatakan bahwa anak indigo merupakan anugerah illahi yang dapat dimanfaatkan demi kepentingan umum. Sementara itu, sebagian lain menyatakan bahwa kasus tersebut tidak lebih dari kasus kerusakan otak pada bagian tertentu, sedangkan yang lain berpendapat bahwa anak indigo adalah produk zaman baru yang mengemban misi tertentu. Misi anak indigo dalam pandangan pakar metafisika adalah manusia yang dilahirkan untuk mengemban perdamaian dunia. Selain itu, Suhalim (dalam Yaya) mengatakan bahwa anak indigo merupakan produk perubahan perputaran bumi. Pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1980-an, resonansi bumi sekitar 7,83 Hz. Pada tahun 2000 resonansi bumi menjadi 8,5-9 Hz, sedangkan pada tahun 2004 sudah mencapai 13,5 Hz. Secara teoretis getaran bumi yang semakin cepat akan membuat bumi semakin panas dan suhu ikut meningkat. “Kenaikan ini juga mengakibatkan perubahan yang cukup signifikan sehingga membutuhkan orang tertentu untuk menyeimbangkannya,” lanjut konsultan fengsui dan aura ini. Kelahiran anak-anak berbakat inilah yang akan membantu getaran bumi berjalan lebih smooth, lebih mulus. Kelahiran mereka ditujukan untuk mengubah tatanan dunia supaya menjadi lebih nyaman. Di lain pihak, ada pula yang berpendapat bahwa makhluk indigo muncul bukan tanpa sebab. Lucky (2007) menyatakan bahwa anak indigo muncul karena tiga sebab berikut, yaitu:
1. berasal dari keturunan yang masih memberlakukan sirik, misalnya menyimpan keris yang dianggap memberi berkah dsb atau memelihara benda pusaka lainnya;
2. turunan dari kakek, pokoknya ada keturunan keluarga yang juga indigo;
3. tidak turunan, tetapi jin mencoba untuk mengikuti anak tsb.
Uraian singkat tentang anak indigo tadi penulis jadikan dasar analisis pada sumber data, yaitu novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira. Analisis tersebut penulis jadikan sebagai pembuktian apakah uraian tadi dapat berterima atau tidak berterima dengan sumber data yang penulis ambil.
2. Refleksi Anak Indigo Dalam Perempuan Mencari Tuhan
Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Yudhistira (2007) bercerita tentang kematian seorang gadis belia bernama Clara. Kematian Clara ternyata berbuntut panjang. Pascakematiannya banyak menimbulkan peristiwa aneh yang dialami oleh keluarganya. Peristiwa aneh itu terus berlanjut sampai kelahiran Ganet—anak Zahra. Keponakan kecilnya itu ternyata terus dibuntuti oleh Clara. Beberapa pesan Clara disampaikan dengan baik oleh bocah kecil yang ajaib itu. Ganet mewarisi keanehan yang dimiliki oleh Zahra dulu. Salah satu tantenya, Laksma, sangat meyakini Ganet sebagai reinkarnasi Clara terlebih dengan segala kemiripan yang dimiliki bocah itu. Nasib Ganet pun hampir sama dengan nasib tantenya yang sudah lama berpulang lebih dulu itu.
Novel itu diawali dengan peristiwa kematian Clara. Suasana kematian yang berjalan alot terungkap seutuhnya pada bagian itu. Nuansa kematian menyiratkan nuansa pucat dan kesedihan. Pada saat ajalnya itulah, Clara baru menyadari siapa Tuhan dan siapa malaikatulmaut, sosok yang sempat membuatnya sangat ketakutan dan mengunci mulutnya dari kalimat ilahiah. Dengan gigih Laksma—kakak yang selama ini selalu membencinya, yang menunggui Clara pada saat-saat terakhirnya itu—terus mendesakkan nama Tuhan ke telinga Clara. Clara mampu menghilangkan rasa takutnya dan berserah diri kepada Tuhan. Dengan legowo Clara menyerahkan desah napas terakhirnya teriring sebutan nama Tuhan di mulutnya.
Susah payah Laksma mengendalikan Clara. Hingga akhirnya nama Tuhan tereja di bibir Clara dengan terbata-bata. Sangat jelas bayang-bayang kematian Clara di mata Laksma. Wajah Clara begitu sunyi. Hening.senyap. (PMT:3)
Namun, kematian Clara ternyata berbuah rangkaian peristiwa aneh yang dialami, terutama oleh keluarga terdekatnya. Beberapa peristiwa aneh tersebut, antara lain, adalah sebagai berikut.
1. Peristiwa aneh di pascapemakaman Clara: Kedua kaki Zahra seolah tertancap kuat pada kulit bumi. Bobot tubuhnya bertambah drastis sehingga Laksma tidak mampu menariknya saat mengajak pulang adik satu-satunya itu. Dinding pemakaman mendadak tumbuh meninggi dan menebal. Pepohonan di pemakaman juga mengalami hal yang sama, tumbuh kian menjulang tinggi hingga hampir menggaruk langit. Bunga kematian jatuh berguguran, menebarkan aroma wangi misterius di sekitar pemakaman, dan kunang-kunang hadir menghias malam. Kedua kakak beradik itu terjebak di pemakaman hingga akhirnya kelelahan dan tertidur pulas di tempat itu. Ibu yang menyusul ke tempat itu pun mengalami hal yang sama (hlm. 8—20).
2. Waktu berlalu sangat cepat: Peristiwa aneh di pemakaman tersebut rupanya telah menjebak ibu dan kedua anaknya itu selama satu minggu. Padahal, mereka merasa bahwa peristiwa itu hanya berlangsung semalam saja (hlm 22—25). Peristiwa yang sama juga dialami mereka setelah Ganet tumbuh dan bersekolah (hlm. 181—182).
3. Keindahan surga di kamar Clara: Zahra, yang tidak sempat memenuhi keinginan sang kakak, membawakan Clara syal dan selimut kesayangannya. Zahra juga melihat sebuah pemandangan yang sangat indah di kamar Clara (hlm. 27—29).
4. Keanehan Zahra hanya dirasakan oleh ibunya (hlm.35).
5. Peristiwa kotak sepatu: Laksma merasa heran karena kotak sepatu yang ia cari ditemukan tidak pada tempat semula ketika menyimpannya dulu (hlm. 46—47 dan 50).
6. Clara menjadi psikiater: Psikiater yang ditemui Zahra memiliki fisik yang identik dengan Clara. Namanya pun sama, Clara. Bahkan, psikiater itu mengatakan bahwa ia memang Clara, kakaknya sendiri. Namun, Zahra tidak menerima hal itu dan memilih hengkang dari hadapan wanita itu (hlm. 68—70).
7. Perubahan wajah pramugari: Dalam perjalanan ke kota rantau, Zahra mendapati wajah-wajah pramugari berubah menjadi wajah Clara. Perubahan itu terjadi berulang-ulang (hlm. 80).
8. Dekorasi kamar Clara di kamar Zahra: Zahra heran ketika melihat dekorasi kamar kosnya tidak ubahnya seperti kamar Clara di rumah (hlm. 83—83).
9. Mug Clara di kamar kos Zahra: Zahra merasa heran ketika ibu kos menyatakan bahwa seorang gadis telah mengantarkan gelas itu kepadanya (hlm. 84—85). Ketika Zahra kembali ke rumah, mug itu sudah ada di kamarnya (hlm. 108).
10. Berlipatnya jumlah anak tangga: Nenek menaiki tangga menuju kamar kos Zahra dengan perjuangan yang sangat berat ia merasa menaiki seratus anak tangga sementara setelah sampai dilihatnya ke bawah jumlah anak tangga itu hanya 13 buah (hlm. 94).
11. Keanehan yang dialami suami Zahra, Bayu, selama kehamilan istrinya: Zahra tidak merasakan keanehan sedikit pun selama mengandung. Namun, rasa mual yang hebat justru dirasakan oleh Bayu. Selain itu, gerakan janin juga tidak dirasakan oleh Zahra, tetapi Bayu yang merasakan gerakan itu. Zahra tidak merasakan sakit saat akan melahirkan. Sebaliknya, Bayulah yang didera derita luar biasa menjelang kelahiran anaknya, Ganet (hlm. 114—118).
12. Nama Clara tertulis di dada Ganet: Laksma menemukan tulisan nama Clara pada dada Ganet, keponakannya yang baru saja lahir. Ia teringat kembali pada tulisan nama yang sama yang digoreskan di dada Clara pascakematiannya (hlm. 120—123 dan 133).
13. Perubahan wajah ibu ketika memangku Ganet: Wajah ibu berubah menjadi muda seperti saat ia baru melahirkan Clara dulu (hlm.126—127).
14. Ganet bisa bicara saat masih berusia empat bulan: Laksma mendengarkan musibah yang akan menimpa suaminya dari mulut Ganet (hlm. 158—159).
15. Setahun sekali Ganet tidur seharian: Zahra ingat Clara selalu berpuasa seharian saat hari ulang tahun dan baru makan pada pukul 12 malam menjelang pergantian hari. Tepat pada hari ulang tahun Clara, Ganet tertidur seharian dan baru terjaga tengah malam (hlm.162—163).
16. Selera Ganet mirip dengan selera Clara: Ia sangat menyukai boneka kura-kura (hlm. 163—165). Dekorasi di kamar Ganet pun sama persis dengan dekorasi di kamar Clara (hlm. 207).
17. Suara Ganet berubah menjadi suara Clara: Laksma mendengar sendiri perubahan suara Ganet (hlm.170—172).
18. Ganet mampu memberikan informasi yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Hal itu terjadi ketika Zahra lupa kepada teman sekosnya dulu (hlm. 183—185).
19. Daya nalar dan kepekaan Ganet terhadap peristiwa yang akan datang sangat tinggi. 192, 200, 205, 208—209, 212—213, 224—226, 237—240, 246—257).
20. Ganet memiliki alibi: Ketika ibu gurunya menderita depresi karena musibah kecelakaan yang menimpanya, Ganet mengunjungi ibu gurunya itu dan turut menenangkannya. Padahal, pada saat yang sama Ganet tertidur pulas hingga denyut nadinya melemah. Ketika Ganet kembali, gadis kecil itu terjaga (hlm. 229–236). Ganet juga beralibi menemui Carol di dalam pesawat yang akan membawanya ke luar negeri. Padahal pada saat yang bersamaan Ganet tertidur pulas (hlm. 240—241).
21. Jarak yang kian menjauh: Laksma mendadak menempuh jarak yang sangat jauh untuk menuju rumah Zahra hingga sangat kelelahan dan setengah linglung (hlm. 244—245).
22. Masa hidup Ganet dan Clara sama: Ganet meninggal tepat ketika menginjak usia 13 tahun. Keduanya meninggal dalam kondisi pencarian jati diri Tuhan dan sebelumnya mengalami perjalanan rohani yang sama, di antaranya berkunjung ke neraka dan surga (hlm.271—281).
Selama hidupnya Clara sangat dekat dengan adiknya, Zahra. Sebaliknya, sang kakak, Laksma, tidak demikian. Kelahiran Clara seakan meretas benang kasih sang ibu kepadanya. Kondisi Clara yang lemah tentunya menuntut perhatian khusus sang ibu kepadanya. Laksma merasa tersisihkan. Ia tidak segan-segan melampiaskan kekesalannya itu kepada Clara dengan berbagai cara. Kelahiran Zahra dapat menghibur Clara karena ia memiliki sahabat berbagi suka dan duka. Demikian pula, Zahra sangat menyayangi kakaknya. Kematian Clara sangat ia sesali karena tidak sempat memberikan apa yang diinginkan sang kakak menjelang ajalnya. Zahra tidak dapat mendampingi Clara saat orang terkasih itu tiada. Suasana kepedihan Zahra tercermin dalam kutipan berikut.
Sejak itu hari-hari Zahra adalah seorang perawan yang tengah menunggu kereta api di stasiun terakhir. Tak satu pun kereta yang datang berhenti di depan Zahra. Kepergian Clara sangat membuat Zahra terpukul. Ia kehilangan saudara, kakak, teman, sahabat, ibu, guru, dan entah sebutan apa lagi. Sebab hanya kepada Clara, Zahra menemukan kedamaian. Kedamaian yang tak mampu ibu dan ayah Zahra penuhi. (PMT:31)
Kematian Clara bukan merupakan akhir persahabatan mereka. Sepeninggal teman curhatnya itu, Zahra tidak pernah kehilangan Clara. Rupanya Zahra dikaruniai kepekaan yang luar biasa. Ia selalu berkomunikasi dengan Clara. Clara rupanya masih mencintai kehidupan di dunia dan enggan meninggalkan orang-orang yang ia cintai. Clara telah mendapat izin dari Tuhan untuk mengunjungi orang yang ia rindukan, Zahra. Jadilah komunikasi di antara keduanya berlanjut. Bahkan, Clara masih bisa mencicipi masakan ibunya yang disisihkan Zahra untuknya. Kamar Clara pun masih dibiarkan seperti aslinya dan dirawat seperti saat Clara masih hidup.
Kelebihan yang dimiliki Zahra tersebut rupanya menuai reaksi pro dan kontra dari keluarganya. Ibu, nenek, dan kakaknya tidak mempercayai Zahra yang mampu berhubungan dengan Clara. Mereka menganggap bahwa Zahra bersikap sangat aneh sepeninggal Clara.
Nenek yang pernah memvonisnya tak waras. (PMT:92)
Keikhlasan ibu untuk melepaskan Clara terusik dengan tingkah aneh Zahra. (PMT:35)
“Berhentilah bersikap aneh,” ujar Laksma lagi. (PMT:65)
Ibu telah berupaya keras untuk ‘menyembuhkan’ Zahra agar tidak menceracau tentang Clara, di antaranya membawa si bungsu kepada seorang psikiater.
Zahra sedikit gusar. Tak ada gunanya ia berlama-lama di depan psikiater ngawur itu. Ia tak mendapatkan apa-apa. Psikiater itu sama dengan nenek, ibu, dan Laksma. Jadi, untuk apa ia berlama-lama di situ. Serta merta ia beranjak dari duduknya. Berlalu dari ruangan itu. (PMT:70)
Namun, hal itu tidak pernah berhasil. Zahra kembali seperti semula, senang berbicara dengan Clara dan menyendiri. Ibu yang akhirnya putus asa, mengalihkan kekecewaannya itu pada pekerjaannya, workaholic. Nenek juga tidak percaya kepada Zahra sampai akhirnya wanita tua itu melihat sendiri keajaiban yang dialami cucunya itu. Laksma sama sekali tidak mempercayai Zahra hingga akhirnya ia mendapati bahwa kelak keponakannya, anak Zahra yang bernama Ganet, dikaruniai tanda-tanda yang cenderung identik dengan Clara.
Reaksi negatif dari keluarga yang diterimanya membuat Zahra memutuskan untuk menarik diri dari lingkungannya. Ia cenderung mengurung diri di kamar seharian sepulang dari sekolah. Komunikasi dengan anggota keluarga lainnya menjadi hambar. Satu-satunya jalan adalah pergi ke kamar Clara dan menunggu kehadiran sang kakak yang mampu menutup rasa hampa dalam diri Zahra.
Puncak dari kekecewaan Zahra adalah keputusannya untuk hengkang dari rumah, meninggalkan nenek, ibu, dan Laksma. Meskipun harus bersitegang dengan ibunya, Zahra tidak bergeming. Ia bersikeras untuk melanjutkan sekolahnya di perantauan.
Perjalanan di pesawat adalah perjalanan yang panjang. Setiap kali pesawat menempuh kilometer, jarak tujuan terasa bertambah jauh. Entah mengapa di atas pesawat itu Zahra merasa sendirian di alam lepas. Awan putih dengan titik air bening menggumpal di kaca jendela pesawat. Pergi dari rumah tanpa restu dan dukungan ibu telah ia lakukan.
Meskipun Zahra ngeri dengan ancaman ibunya, ia tetap bertekad belajar di kota propinsi. Tabungan dan beasiswa yang ia punya cukup untuk membiayai kuliah hingga selesai, sedang untuk tinggal dan makan mau tak mau ia harus bekerja. Bekerja? Sebagai apa. Pekerjaan apa yang bisa dilakukan anak selepas SMU. (PMT:74)
Pertemuan dengan Clara tiada terputus. Clara masih menemuinya. Namun, setelah pertemuannya dengan Bayu, lelaki yang mencintainya, Clara tidak lagi dapat menemuinya. Pada pertemuan terakhirnya dengan sang kakak, Zahra mendapat perintah dari kakak tercintanya itu untuk menerima pinangan Bayu. Clara mengatakan bahwa hanya melalui Bayulah ia dapat mengunjungi Zahra kembali.
Perkawinan Bayu dan Zahra membuahkan seorang bayi perempuan yang cantik bernama Ganet. Fisik dan seleranya sangat mirip dengan Clara. Kelahiran Ganet sama halnya dengan kematian Clara, sama-sama membuahkan peristiwa aneh. Ketika digendong oleh neneknya, wajah sang nenek berangsur-angsur menjadi muda kembali seperti saat ia melahirkan Clara dulu.
Diangkatnya Ganet pelan-pelan dengan penuh perasaan. Zahra melihat ada perubahan besar dalam diri ibu. Ia lihat pelan-pelan wajah ibu jauh lebih muda. Ibu seperti baru saja melahirkan, ya, ibu seperti baru melahirkan Clara. Ibu sangat cantik, berkulit bersih, matanya bersinar. Ibu mencium Ganet dalam-dalam dan menyebut nama Clara. Zahra tercengang. Ia dengar betul ibu menyebut nama Clara saat mencium Ganet. (PMT:127)
Ketika Clara meninggal, Laksma dengan iseng menuliskan nama Clara di dada adiknya yang telah membujur kaku itu. Namun, setelah Ganet lahir, tanpa sengaja ia membuka baju bayi itu dan menemukan tulisan nama yang sama di dada keponakannya yang masih merah itu.
Pelan-pelan Laksma membuka baju si bayi. Ia menelisik ke dada si bayi. Deg, jantung Laksma berpindah tempat. Pada dada si bayi jelas-jelas tertera nama Clara dengan tinta warna hitam. Tinta yang sama ketika ia menorehkan nama Clara pada dada Clara. (PMT:120)
Namun, keanehan tersebut hanya dapat dilihat oleh Laksma dan Zahra. Bayu dan ibu tidak melihatnya. Keanehan itu semakin berkembang seiring perkembangan tubuh Ganet. Ganet sudah dapat berbicara ketika menginjak usia empat bulan. Selain itu, kemampuan Ganet yang lain muncul seiring kemampuannya untuk berbicara. Ganet dapat menyampaikan peristiwa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
“Jangan pergi.”
Laksma terkejut. Ia yakin ucapan yang baru saja ia dengar bukan berasal dari ibu. Laksma memandangi Ganet dengan keheranan yang luar biasa. Ia semakin terheran-heran dengan pembicaraan Ganet yang sangat lancar.
“Nenek tak bohong, Ganet yang minta bertemu dengan Tante.”
Laksma bengong.
“Ada sesuatu yang mesti Ganet sampaikan.”
Laksma menautkan kening.
“Akan ada kabar buruk datang. Kapal suami tante tertabrak karang. Seluruh awak kapal meninggal.”
“Ganet.”
“Ini benar, Tante.”
Dada ibu bergemuruh, sedang Laksma seperti ingin mati. Ganet mengatakan suaminya akan meninggal. Itu menyakitkan. (PMT:158—159)
Kemampuan supranatural Ganet semakin berkembang seiring perkembangan usianya. Dengan spontan ia akan menyampaikan informasi futuristik kepada orang yang bersangkutan, di antaranya, keluarga teman kuliah ibunya, guru wali, tetangga, presiden, termasuk kerabatnya sendiri. Tentu saja informasi yang disampaikan Ganet mengundang pro dan kontra dari pihak yang bersangkutan. Ganet selalu dianggap mengada-ada, bahkan cenderung ditertawakan. Kata-kata Ganet dianggap angin lalu. Namun, ada pula yang menerima dan mengikuti kata-katanya. Salah seorang di antaranya adalah Sandra, teman ibu Ganet semasa kuliah dulu. Sandra dan kedua adiknya, Ester dan Carol, sudah tiga tahun lamanya tidak mengunjungi tanah kelahirannya dan makam ibu mereka. Ketika bertemu dengan Ganet, gadis kecil itu mengatakan bahwa makam ibunya sangat tidak terawat dan jika ketiga bersaudara itu tidak memperbaiki makam itu mereka akan tertimpa bencana. Semula Sandra tidak mempercayainya. Namun, akhirnya ia mencoba untuk mengikuti informasi anak ajaib itu. Diupayakannya untuk mengumpulkan dua saudaranya yang sama-sama supersibuk. Hanya Esterlah yang kurang memedulikan rencana itu. Sandra akhirnya berangkat sendirian dan memperbaiki makam ibunya serta rumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya dulu. Selanjutnya, Ganet mengabarkan kabar buruk kepada Ester bahwa Ganet mengatakan Ester akan kehilangan pekerjaannya. Tidak lama kemudian Ester mengalami hal itu. Lalu, Ganet menyarankan kepada Ester untuk melakukan sesuatu yang dulu sangat disukai oleh mendiang ibunya. Ester pun melakukan hal itu. Tidak lama kemudian Ester kembali mendapatkan panggilan kerja dari sebuah perusahaan. Ganet juga melakukan hal yang sama kepada Carol. Ketika Carol hendak bepergian dengan menggunakan kereta api, Ganet melarangnya dengan keras. Ganet melihat bayangan musibah tabrakan kereta api di pesawahan. Peristiwa itu sangat mengerikan. Carol pun terpaksa membatalkan kepergiannya meskipun telah membeli tiket kereta. Ganet pun meminta Carol untuk tinggal sementara di rumah selama beberapa hari. Tidak lama kemudian Carol menyaksikan peristiwa itu di televisi.
Ganet merasa sedih dan sesal ketika kata-katanya tidak ditanggapi. Terlebih ketika pihak istana kepresidenan menganggapnya angin lalu. Ia menyampaikan bahwa ibu kota akan dilanda banjir besar yang luar biasa mengerikan. Padahal, saat itu negeri ini sedang dilanda musim kemarau panjang. Pihak istana menyepelekan kata-katanya. Ganet dilanda rasa sedih dan sesal yang sangat dalam. Ia pulang dengan tangan hampa. Tidak berapa lama kemudian hujan terus-menerus mengguyur ibu kota. Air yang melimpah ruah itu tidak mampu dikendalikan dan merusak hampir seluruh wilayah kota metropolitan itu. Bahkan, sang presiden yang sempat melecehkan gadis ajaib itu terpaksa harus kehilangan anggota keluarganya. Korban jiwa pun berjatuhan tiada terhingga. Ganet hanya dapat menyaksikan poeristiwa itu dengan penyesalan yang luar biasa. Hal itu membuatnya sakit. Kondisi Ganet memburuk sejak saat itu.
Selain dapat meramalkan hal-hal pada masa yang akan datang, Ganet juga mampu beralibi. Jika demikian, di kamar ia tampak seperti tertidur pulas. Namun, pada saat itu jiwanya sedang mengunjungi orang-orang yang ia perhatikan. Ketika guru walinya mendapat musibah, ia datang mengunjunginya di rumah sakit. Padahal pada saat yang sama Zahra dan Laksma menyaksikan gadis itu sedang tertidur lelap. Namun, denyut nadi Ganet melemah. Setelah nyawa Ganet kembali, kondisinya akan kembali seperti semula.
Kemampuan Ganet pun memiliki ambang batas. Ganet tidak dapat membaca pikiran ibunya. Pada saat itu Zahra sedang terhanyut ke alam penyesalan. Penyesalan yang selalu datang pada akhirnya. Ganet terus berusaha membaca isi benak ibunya, tetapi tetap tidak bisa. Gadis kecil itu baru menyadari kelemahannya setelah mendapat bisikan Clara bahwa kemampuannya hanya muncul dengan sendirinya.
Zahra dan Ganet merupakan anak indigo. Namun, kadar keindigoan mereka sangat berbeda. Zahra hanya dapat menembus alam Clara dan berkomunikasi dengan mendiang kakaknya itu. Namun, Ganet memiliki kadar keindigoan yang lebih besar, bahkan sangat besar untuk ukuran anak seusianya itu. Selain dapat berkomunikasi dengan Clara, Ganet juga mampu menyampaikan hal-hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Sensitivitas Ganet sangat besar.
Sebagai anak indigo Zahra dan Ganet memiliki kesamaan, yaitu tidak mendapatkan tempat yang layak sebagai seorang anak indigo. Ketika Zahra mengatakan bahwa ia sering didatangi oleh Clara, anggota keluarganya yang lain menunjukkan reaksi kontra. Mereka menuduh bahwa Zahra sudah tidak waras, bertingkah aneh, dan pandai berhalusinasi. Karena tidak tahan dengan keanehan Zahra, ibu memutuskan untuk menjaga jarak dengan Zahra. Komunikasi dengan anggota keluarga lainnya pun terasa hambar. Akhirnya, Zahra pun menarik diri dan mengurung diri di kamar. Terlebih setelah keputusan ibu untuk mengubah kamar Clara menjadi gudang dilaksanakan. Puncaknya adalah larinya Zahra dari rumah dan melanjutkan kuliah di kota provinsi.
Ganet juga mengalami hal yang sama dengan Zahra, yaitu tidak mendapat tempat di hati keluarga terdekatnya, terutama ibunya. Satu hal yang sulit dimengerti, keanehan Ganet tidak akan tampak jika ayahnya, Bayu, berada di dekatnya. Ganet merasakan kesepian dan kesedihan yang justru dirasakan oleh Zahra. Ketika Zahra dianggap ‘tidak sembuh’ oleh ibunya, ia ditinggalkan wanita yang melahirkannya itu. Ibunya lebih memilih menjaga jarak dengan Zahra dan mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaannya. Ibu baru pulang larut malam saat Zahra telah tertidur. Zahra merasakan betapa orang-orang dekatnya, terutama ibunya, telah meninggalkannya. Padahal, saat itu ia sebenarnya sangat memerlukan kehadiran mereka.
Zahra menatap ibunya dengan penuh heran. Ada gerangan apa ibu menemuinya. Bukankah selama ini ibu seperti menghindar dari Zahra tanpa alasan yang jelas. Ya, sejak Clara orang yang paling dekat dengannya meninggal, ibu justru menjauh darinya. Padahal selama Clara meninggal Zahra sering kesepian dan kangen dengan ibu. Selalu ibu mengunjunginya meski hanya untuk merapikan selimut yang sesungguhnya sudah rapi. Dulu ada saja yang ibu katakan menjelang Zahra tidur. Sekarang tak terasa hampir satu tahun ibu telah meninggalkan kebiasaan yang hangat itu. (PMT:36)
Apa yang dialami oleh ibunya dulu juga dialami oleh Zahra. Zahra tidak mampu menerima keanehan yang dimiliki oleh Ganet. Zahra memutuskan untuk kembali bekerja demi menghindarkan diri dari penglihatannya terhadap kelebihan pada diri Ganet. Zahra tidak menyadari bahwa Ganet juga merasakan kesedihan dan kesepian seperti yang pernah ia alami dulu. Bahkan, Ganet sangat membenci ibunya. Beruntung ia masih memiliki tempat untuk mencurahkan isi hatinya, yaitu Laksma. Laksma sangat memahami apa yang pernah terjadi pada diri Zahra dan kini pada diri keponakan kecilnya itu. Melihat kesibukan dan sikap Zahra, Laksma bersikeras untuk merawat Ganet sepenuh hati. Terlebih setelah ia kehilangan suaminya, perhatian Laksma sepenuhnya tercurah kepada gadis itu. Laksma tidak menginginkan Ganet membenci ibunya. Ia berjuang untuk melekatkan kembali ikatan di antara keduanya yang sudah kendur itu. Zahra kemudian menyadari hal itu. Ia berusaha untuk mendampingi putrinya meskipun selalu tampak kewalahan menghadapi keanehan putrinya itu. Zahra sebagai anak indigo tidak mampu menerima kodrat putrinya yang juga indigo. Seharusnya posisi Ganet lebih baik karena berada di dekat seseorang yang juga indigo. Namun, posisi Ganet sama saja dengan posisi Zahra dahulu. Sama-sama tidak nyaman.
Lingkungan sekitar Zahra dan Ganet senantiasa monoton, yaitu menghendaki keduanya untuk bertindak seperti anak normal lainnya. Zahra tidak menghendaki kemampuan Ganet untuk menyampaikan prediksi masa depan. Demikian pula anggota keluarga tidak menghendaki Zahra berbicara tentang pertemuannya dengan Clara. Kelebihan yang dimiliki oleh Zahra dan Ganet tampak menjadi bumerang bagi orang-orang di sekitarnya. Khusus bagi Ganet, hal itu juga berlaku bagi orang-orang yang akan mengalami peristiwa yang diprediksinya.
Sikap lingkungan yang tidak berterima itu mendorong Zahra dan Ganet pada situasi yang sangat sulit. Zahra harus mengasingkan diri dari rumah dan anggota keluarganya. Lebih parah lagi, Ganet memburuk kondisinya ketika menyadari bahwa orang-orang yang ia prediksikan nasibnya itu menolaknya dan, kemudian, mengalami kejadian yang sangat menyedihkan. Batin Ganet pun terkoyak hebat. Stamina Ganet memburuk.
Zahra dan Ganet sama-sama tidak mendapatkan penanganan yang baik dari keluarganya. Latar belakang keluarganya yang broken home dan tiadanya sosok sang ayah, mendorong Zahra menuntaskan kelebihan yang dimilikinya dengan menjauh dari kehidupan keluarganya. Ganet sedikit lebih beruntung. Ganet memiliki latar orang tua yang utuh. Namun, sang ayah tidak pernah mengetahui kelebihan yang dimilikinya. Komunikasi Zahra tentang hal itu tidak pernah terjadi dalam keluarga. Namun, dukungan Laksma membuat Ganet memiliki sedikit celah untuk mengaktualisasikan kelebihannya itu. Zahra dan Ganet juga tidak digambarkan memiliki hubungan dengan teman-teman sebayanya. Mereka hanya digambarkan berkutat dengan lingkungan keluarga yang aggotanya notabene usianya lebih tua.
Kurangnya pendidikan religi juga mendukung sikap negatif keluarga dan Zahra sendiri. Clara baru mengenali Tuhannya tepat ketika di penghujung hayatnya. Demikian pula Ganet. Gadis itu juga berusaha menelusuri arti Tuhan dan makna kebesaran-Nya tepat ketika ia meregang nyawa yang hanya sejengkal lagi itu. Sosok ayah yang tidak pernah tergambarkan dalam cerita justru mengundang misteri dan sejuta pertanyaan (kecuali kiriman bunga mawar sesaat pascakematian Clara). Bukan tidak mungkin jika ayah Zahra berlatar belakang keyakinan yang berbeda. Hal itu tercermin dalam nama Clara yang berbau nasrani, yaitu Theodora Clara Dewi. Sementara itu, nama Zahra dan Laksma tidak pernah terungkapkan. Bukan tidak mungkin perbedaan keyakinan itulah yang menyebabkan terjadinya perpecahan di antara kedua orang tua tiga bersaudara itu. Hal itu pula yang memicu hambarnya pendidikan agama di lingkungan terkecil itu. Makna dan hakikat Tuhan tidak pernah tertanamkan sejak dini.
Ditinjau dari segi keturunan, Ganet memiliki garis indigo dari ibunya, Zahra. Sementara itu, tidak tertutup kemungkinan Zahra mengalami hal yang sama dari generasi sebelumnya.
Hembusan arus hidup globalisasi juga tercermin dalam novel ini. Gaya hidup yang cenderung serba cepat mendorong manusia menjadi mudah frustasi. Hal ini tercermin dari sikap ibu, Laksma, dan Zahra. Ibu tidak sabar dalam menghadapi kelebihan yang dimiliki oleh Zahra sehingga ikatan batin di antara keduanya menjadi hambar dan renggang. Laksma tidak sabar dalam menghadapi kondisi Clara yang sakit-sakitan. Bahkan, Laksma sempat menghendaki kematian adiknya itu. Zahra tidak sabar dalam menghadapi perilaku Ganet yang sebenarnya sama dengan dirinya. Zahra bersikap seperti ibunya, yaitu menghendaki perubahan pada diri orang lain dalam waktu cepat tanpa upaya dan kegigihan untuk menangani hal itu. Hubungan Zahra dan Ganet tidak ubahnya seperti hubungan Zahra dan ibu dulu. Perbedaannya ialah Ganet masih memiliki Laksma, sedangkan Zahra tidak mendapatkan pelabuhan curhat yang kasat mata seorang pun.
3. Simpulan
Novel Perempuan Mencari Tuhan merupakan rangkaian refleksi kehidupan anak indigo yang tidak mendapatkan penanganan secara tepat. Kelebihan yang dimiliki para indigo dalam cerita itu tidak mendapatkan tempat di lingkungan sekitarnya. Seperti dalam kisah indigo di dunia nyata, reaksi yang diterima dari lingkungan sekitar adalah reaksi kontra. Hal itu sangat menyulitkan kaum indigo untuk mengaktualisasikan kelebihan yang dimilikinya itu. Tidak tampaknya hubungan sosial dengan teman sebaya menyulitkan keseimbangan hubungan sosial sang indigo. Tokoh indigo dalam novel tampak terjerumus ke dalam dunia supranatural karena kurangnya latar pemahaman religi. Berkaitan dengan silsilah, teori yang mengatakan bahwa bakat indigo merupakan bakat turunan, juga terbukti. Ganet mendapatkan talenta indigo dari ibunya, Zahra.
Deraan arus globalisasi juga terasa kental dalam cerita. Arus tersebut cenderung mendorong manusia untuk mengembangkan gaya hidup cepat. Hal itu berimbas pada kejiwaan manusia. Manusia menjadi mudah depresi. Kesabaran menjadi prioritas nomor sekian. Hal itu tercermin dalam sikap tokoh ibu, Laksma, dan Zahra dalam menghadapi fakta yang ada. Lingkungan yang tidak berterima tersebut juga mudah mendorong anak indigo menjadi frustasi. Zahra dengan kepergiannya dan Ganet dengan sakitnya.
Beberapa karakteristik anak indigo seperti yang dikemukakan Tobler juga tercermin dalam cerita, di antaranya sebagai berikut: (1) Zahra dan Ganet memiliki kepekaan yang tinggi atau indera keenam, (2) Ganet mampu berfikir futuristik, (3) cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar, dan (4) sering bersitegang dengan orang terdekat terutama ibu dalam mempertahankan prinsip tertentu.
Daftar Pustaka
Bataviase. 2007. “Jiwa Tua Anak Indigo” dalam http://bataviase.wordpress.com/2007/04/30/jiwa-tua-anak-indigo/ diunduh tanggal 16 Maret 2009 jam 15:34
Eriyanti. 2009. “Indra Keenam Anak Indigo” dalam suplemen “Geulis” Pikiran Rakyat edisi Minggu, 22 Februari 2009, halaman 17.
http://dearlucky.blogspot.com/2007/08/anak-indigo-itu-hebat.html diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:40
http://forum.wintersat.com/science-n-art/1173-fenomena-anak-indigo.html diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:40
http://www.indospiritual.com/artikel_anak-indigo–aset-negara-yang-harus-diperhatikan.html diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:38
http://kontaktuhan.org/news/news186/fr_26.html diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:13
Mohammad, Herry et al. 2004. Liputan khusus Gatra dalam http://209.85.175.132/search?q=cache:aXL0mG13XR8J:www.gatra.com/2004-05-9/artikel.php%3Fid%3D35187+ANAK+INDIGO&cd=8&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:36
Rimba, Leonardo. 2005. “Anak Indigo dan Sistem Pendidikan Kita” dalam http://www.mail-archive.com/psikologi_net@yahoogroups.com/msg00170.html diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:34
Yaya. 2007. “Anak-Indigo” dalam http://myhealthblogging.com/parenting/2007/08/23// diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:25
Yudhistira, Dianing Widya. 2007. Perempuan Mencari Tuhan. Jakarta: Republika.
15/11/2009
Resti Nurfaidah
Abstrak
Anak indigo merupakan fenomena abad neew age, abad milenium. Anak-anak tersebut kerapkali menunjukkan karakter yang cenderung aneh. Terkadang, kehadiran mereka kerapkali menjadi bumerang bagi lingkungan sekitarnya. Bahkan, mereka sering dicap sebagai anak yang berperilaku menyimpang. Terlebih lagi bagi orang tua yang tidak sabar cenderung membawa anak indigo ke pusat rehabilitasi mental. Salah satu sebab yang membedakan anak indigo dengan anak lainnya adalah mereka senantiasa menunjukkan perilaku yang aneh. Padahal, tanpa mereka sadari kebanyakan anak indigo memiliki intelegensi di atas rata-rata atau bahkan kemampuan yang belum tentu dapat dimiliki anak sebayanya. Sementara itu salah seorang psikoterapis senior di Indonesia mengatakan bahwa anak indigo merupakan anak yang abnormal karena terjadinya kerusakan pada sistem otak. Sehubungan dengan hal itu, anak indigo harus mendapatkan penanganan yang tepat sejak awal dan mereka harus dianggap sebagai anak biasa. Berbeda dengan kondisi di negeri ini, Amerika menjadikan anak indigo sebagai aset yang sangat berharga. Di sana anak indigo dilibatkan dalam penanganan kasus kriminal. Semakin maraknya fenomena anak indigo tersebut, banyak penulis yang mengangkat hal itu ke dalam karya mereka. Salah satu di antaranya, dapat kita temukan dalam novel Perempuan Mencari Tuhan yang ditulis oleh Yudhistira. Novel tersebut bercerita tentang konflik antara anak indigo dan lingkungan sekitarnya. Lingkungan tersebut menunjukkan sikap tidak berterima kepada anak indigo. Tokoh Ganet menjadi korban ketidakberterimaan atas kelebihan yang dimilikinya. Hal itu menimbulkan kekecewaan dalam diri Ganet dan ia tidak bisa menerima kondisi itu. Hal itu tanpa sengaja membawanya menuju pintu gerbang pencarian jalan menuju Tuhan. Sayang sekali, Tuhan Mahakuasa yang ingin ia temui didapatinya di penghujung ajalnya. Novel tersebut sarat dengan penyampaian konflik antara lingkungan dan anak istimewa itu.
Kata kunci: anak indigo, ketidakberterimaan lingkungan, dan konflik
Abstract
Indigo children is one of the new age phenomenon. They sometimes showing as ones with some bad characters. Sometimes, their appearance is being a boomerang for their environtment. Even, they are accepted as children with psychological disorder. Most dispassionated parents take them to the mental rehabilitation center. One of the reasons is the indigo children always show their abnormal action. Whereas, they mostly have high standard of intelligence or the skill that not everyone can do. One of Indonesia senior psychiatrician said that actually the indigo children is abnormal ones because of their brain damage. Because of that, the indigo children must have right theraphy and are accepted to be normal ones. Meanwhile, another said that they can be useful state asset as America does. There, they are involved in the investigation of the crime. The reflection of indigo Children can be found in Perempuan Mencari Tuhan—a novel by Yudhistira. It is told us about the conflict between those indigo children and their environment. Bad acceptance emerges those conflict. Ganet, one of them, is a victim of unacceptance of her environment towards the skill that she has. She is very disappointed with it and can’t stand with the condition. This opens the gateway of exploring God, the Almighty that is at least she found in time with the coming her death. This writing is describing about the conflict of indigo children in the novel.
Key word: indigo children, environment unacceptance, and conflict
1. Pendahuluan
Sejak peralihan ke era milenium, kasus kehadiran anak indigo semakin merebak di berbagai belahan dunia. Anak indigo adalah sebuah istilah baru yang dicetuskan oleh Nancy Ann Tappe, seorang konselor, pada tahun 1980-an, untuk cahaya berwarna perpaduan antara biru dan merah yang menyelimuti tubuh seorang anak (Bataviase:2007). Perpaduan kedua warna itu terletak tepat di kening bagian tengah, di antara kedua alis mata.
Anak indigo sekilas tampak sama dengan anak-anak pada umumnya. Namun, jika diperhatikan lebih saksama tampak jelas perbedaannya. Gaya pembicaraan mereka cenderung seperti orang tua, sulit beradaptasi dengan teman sebaya, dan peka terhadap hal-hal yang terjadi di luar kemampuan manusia pada umumnya. Menurut Tobler (dalam Bataviase:2007), anak indigo memiliki beberapa karakter berikut:
1. mereka datang ke dunia dengan rasa ingin berbagi;
2. mereka menghayati hak keberadaannya di dunia ini dan heran bila ada yang menolaknya;
3. dirinya bukanlah yang utama, seringkali menyampaikan ‘siapa jati dirinya’ kepada orang tuanya;
4. sulit menerima otoritas mutlak tanpa alasan;
5. tidak mau/sulit menunggu giliran;
6. mereka kecewa bila menghadapi ritual dan hal-hal yang tidak memerlukan pemikiran yang kreatif;
7. seringkali mereka menemukan cara-cara yang lebih tepat, baik di sekolah maupun di rumah sehingga menimbulkan kesan “non konformistis” terhadap sistem yang berlaku;
8. tampak seperti antisosial, terasing kecuali di lingkungannya, sekolah seringkali menjadi amat sulit untuk mereka bersosialisasi;
9. tidak berespons terhadap aturan-aturan kaku (mis.: “tunggu sampai ayahmu pulang”);
10. tidak malu untuk meminta apa yang dibutuhkannya (banyak teori yang membahas masalah ini).
Akibat segala kelebihan yang dimiliki mereka, anak indigo kebanyakan justru menghadapi posisi dan kondisi yang sulit dalam hidupnya. Gaya pikiran yang cenderung futuristik serta perilaku yang lebih dewasa daripada teman sebayanya, membuat anak indigo kerapkali mengalami ketidakberterimaan dari lingkungannya, termasuk lingkungan terdekat atau keluarga sekalipun.
Beberapa pakar metafisika dan psikiater menyatakan bahwa sistem pendidikan kita belum dapat mengakomodasi kebutuhan anak indigo sehingga mereka mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan guru dan teman-teman sebayanya. “Penolakan” yang bertubi-tubi itulah yang menyeret sebagian besar anak indigo pada frustasi. Emosi yang cenderung labil dan tiadanya tempat untuk mengaktualisasikan diri sepenuhnya mengakibatkan anak indigo cenderung mencoba cara alternatif yang negatif, misalnya menjadi pemakai obat-obatan terlarang atau penderita depresi.
Jika sistem pendidikan belum menerima keberadaan mereka, para pakar kejiwaan dan metafisika menyarankan bahwa diperlukan suatu wadah yang dapat menampung aktualisasi anak indigo yang pada umumnya dikaruniai satu atau banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak sebayanya. Sebenarnya kita selama ini menganggap bahwa anak indigo tersebut sama satu sama lain. Padahal, tidak demikian. Ada empat tipe anak indigo dengan kelebihan masing-masing. Tipe pertama adalah tipe interdimensional, yakni anak indigo yang memiliki ketajaman indra keenam. Ada pula tipe artis. Anak indigo dari tipe ini amat menonjol di bidang seni dan sastra. Lalu, ada tipe humanis yang mempunyai kelebihan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Biasanya mereka menggunakan kemampuannya untuk menolong orang lain. Tipe terakhir adalah tipe konseptual. Mereka amat menonjol dalam merancang suatu program, misalnya dalam rangka menyelamatkan perusahaan yang akan bangkrut atau membuat usaha baru yang booming dan mendatangkan keuntungan finansial bagi banyak orang. Selain keempat tipe tadi, kadar indigo setiap orang juga sangat berbeda. Sehubungan dengan hal itu, penanganan yang diperlukan bagi setiap anak indigo pun berbeda-beda (Megarini dalam Eriyanti, 2009:17).
Berdasarkan keempat tipe indigo tadi, sudah selayaknya anak indigo mendapatkan tempat yang tepat dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan, ada pula beberapa pakar yang menyatakan bahwa anak indigo dapat dijadikan sebagai aset negara, seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat. Lembaga pendidikan khusus anak indigo pun banyak didirikan di benua itu. Banyak pula anak indigo yang dilibatkan dalam tugas-tugas yang berkaitan dengan kriminal dengan mengandalkan kepekaan luar biasa yang dimiliki mereka.
Banyak perdebatan yang terjadi di kalangan pakar kejiwaan, psikologi, dan metafisika tentang kasus anak indigo tersebut. Sebagian mengatakan bahwa anak indigo merupakan anugerah illahi yang dapat dimanfaatkan demi kepentingan umum. Sementara itu, sebagian lain menyatakan bahwa kasus tersebut tidak lebih dari kasus kerusakan otak pada bagian tertentu, sedangkan yang lain berpendapat bahwa anak indigo adalah produk zaman baru yang mengemban misi tertentu. Misi anak indigo dalam pandangan pakar metafisika adalah manusia yang dilahirkan untuk mengemban perdamaian dunia. Selain itu, Suhalim (dalam Yaya) mengatakan bahwa anak indigo merupakan produk perubahan perputaran bumi. Pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1980-an, resonansi bumi sekitar 7,83 Hz. Pada tahun 2000 resonansi bumi menjadi 8,5-9 Hz, sedangkan pada tahun 2004 sudah mencapai 13,5 Hz. Secara teoretis getaran bumi yang semakin cepat akan membuat bumi semakin panas dan suhu ikut meningkat. “Kenaikan ini juga mengakibatkan perubahan yang cukup signifikan sehingga membutuhkan orang tertentu untuk menyeimbangkannya,” lanjut konsultan fengsui dan aura ini. Kelahiran anak-anak berbakat inilah yang akan membantu getaran bumi berjalan lebih smooth, lebih mulus. Kelahiran mereka ditujukan untuk mengubah tatanan dunia supaya menjadi lebih nyaman. Di lain pihak, ada pula yang berpendapat bahwa makhluk indigo muncul bukan tanpa sebab. Lucky (2007) menyatakan bahwa anak indigo muncul karena tiga sebab berikut, yaitu:
1. berasal dari keturunan yang masih memberlakukan sirik, misalnya menyimpan keris yang dianggap memberi berkah dsb atau memelihara benda pusaka lainnya;
2. turunan dari kakek, pokoknya ada keturunan keluarga yang juga indigo;
3. tidak turunan, tetapi jin mencoba untuk mengikuti anak tsb.
Uraian singkat tentang anak indigo tadi penulis jadikan dasar analisis pada sumber data, yaitu novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira. Analisis tersebut penulis jadikan sebagai pembuktian apakah uraian tadi dapat berterima atau tidak berterima dengan sumber data yang penulis ambil.
2. Refleksi Anak Indigo Dalam Perempuan Mencari Tuhan
Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Yudhistira (2007) bercerita tentang kematian seorang gadis belia bernama Clara. Kematian Clara ternyata berbuntut panjang. Pascakematiannya banyak menimbulkan peristiwa aneh yang dialami oleh keluarganya. Peristiwa aneh itu terus berlanjut sampai kelahiran Ganet—anak Zahra. Keponakan kecilnya itu ternyata terus dibuntuti oleh Clara. Beberapa pesan Clara disampaikan dengan baik oleh bocah kecil yang ajaib itu. Ganet mewarisi keanehan yang dimiliki oleh Zahra dulu. Salah satu tantenya, Laksma, sangat meyakini Ganet sebagai reinkarnasi Clara terlebih dengan segala kemiripan yang dimiliki bocah itu. Nasib Ganet pun hampir sama dengan nasib tantenya yang sudah lama berpulang lebih dulu itu.
Novel itu diawali dengan peristiwa kematian Clara. Suasana kematian yang berjalan alot terungkap seutuhnya pada bagian itu. Nuansa kematian menyiratkan nuansa pucat dan kesedihan. Pada saat ajalnya itulah, Clara baru menyadari siapa Tuhan dan siapa malaikatulmaut, sosok yang sempat membuatnya sangat ketakutan dan mengunci mulutnya dari kalimat ilahiah. Dengan gigih Laksma—kakak yang selama ini selalu membencinya, yang menunggui Clara pada saat-saat terakhirnya itu—terus mendesakkan nama Tuhan ke telinga Clara. Clara mampu menghilangkan rasa takutnya dan berserah diri kepada Tuhan. Dengan legowo Clara menyerahkan desah napas terakhirnya teriring sebutan nama Tuhan di mulutnya.
Susah payah Laksma mengendalikan Clara. Hingga akhirnya nama Tuhan tereja di bibir Clara dengan terbata-bata. Sangat jelas bayang-bayang kematian Clara di mata Laksma. Wajah Clara begitu sunyi. Hening.senyap. (PMT:3)
Namun, kematian Clara ternyata berbuah rangkaian peristiwa aneh yang dialami, terutama oleh keluarga terdekatnya. Beberapa peristiwa aneh tersebut, antara lain, adalah sebagai berikut.
1. Peristiwa aneh di pascapemakaman Clara: Kedua kaki Zahra seolah tertancap kuat pada kulit bumi. Bobot tubuhnya bertambah drastis sehingga Laksma tidak mampu menariknya saat mengajak pulang adik satu-satunya itu. Dinding pemakaman mendadak tumbuh meninggi dan menebal. Pepohonan di pemakaman juga mengalami hal yang sama, tumbuh kian menjulang tinggi hingga hampir menggaruk langit. Bunga kematian jatuh berguguran, menebarkan aroma wangi misterius di sekitar pemakaman, dan kunang-kunang hadir menghias malam. Kedua kakak beradik itu terjebak di pemakaman hingga akhirnya kelelahan dan tertidur pulas di tempat itu. Ibu yang menyusul ke tempat itu pun mengalami hal yang sama (hlm. 8—20).
2. Waktu berlalu sangat cepat: Peristiwa aneh di pemakaman tersebut rupanya telah menjebak ibu dan kedua anaknya itu selama satu minggu. Padahal, mereka merasa bahwa peristiwa itu hanya berlangsung semalam saja (hlm 22—25). Peristiwa yang sama juga dialami mereka setelah Ganet tumbuh dan bersekolah (hlm. 181—182).
3. Keindahan surga di kamar Clara: Zahra, yang tidak sempat memenuhi keinginan sang kakak, membawakan Clara syal dan selimut kesayangannya. Zahra juga melihat sebuah pemandangan yang sangat indah di kamar Clara (hlm. 27—29).
4. Keanehan Zahra hanya dirasakan oleh ibunya (hlm.35).
5. Peristiwa kotak sepatu: Laksma merasa heran karena kotak sepatu yang ia cari ditemukan tidak pada tempat semula ketika menyimpannya dulu (hlm. 46—47 dan 50).
6. Clara menjadi psikiater: Psikiater yang ditemui Zahra memiliki fisik yang identik dengan Clara. Namanya pun sama, Clara. Bahkan, psikiater itu mengatakan bahwa ia memang Clara, kakaknya sendiri. Namun, Zahra tidak menerima hal itu dan memilih hengkang dari hadapan wanita itu (hlm. 68—70).
7. Perubahan wajah pramugari: Dalam perjalanan ke kota rantau, Zahra mendapati wajah-wajah pramugari berubah menjadi wajah Clara. Perubahan itu terjadi berulang-ulang (hlm. 80).
8. Dekorasi kamar Clara di kamar Zahra: Zahra heran ketika melihat dekorasi kamar kosnya tidak ubahnya seperti kamar Clara di rumah (hlm. 83—83).
9. Mug Clara di kamar kos Zahra: Zahra merasa heran ketika ibu kos menyatakan bahwa seorang gadis telah mengantarkan gelas itu kepadanya (hlm. 84—85). Ketika Zahra kembali ke rumah, mug itu sudah ada di kamarnya (hlm. 108).
10. Berlipatnya jumlah anak tangga: Nenek menaiki tangga menuju kamar kos Zahra dengan perjuangan yang sangat berat ia merasa menaiki seratus anak tangga sementara setelah sampai dilihatnya ke bawah jumlah anak tangga itu hanya 13 buah (hlm. 94).
11. Keanehan yang dialami suami Zahra, Bayu, selama kehamilan istrinya: Zahra tidak merasakan keanehan sedikit pun selama mengandung. Namun, rasa mual yang hebat justru dirasakan oleh Bayu. Selain itu, gerakan janin juga tidak dirasakan oleh Zahra, tetapi Bayu yang merasakan gerakan itu. Zahra tidak merasakan sakit saat akan melahirkan. Sebaliknya, Bayulah yang didera derita luar biasa menjelang kelahiran anaknya, Ganet (hlm. 114—118).
12. Nama Clara tertulis di dada Ganet: Laksma menemukan tulisan nama Clara pada dada Ganet, keponakannya yang baru saja lahir. Ia teringat kembali pada tulisan nama yang sama yang digoreskan di dada Clara pascakematiannya (hlm. 120—123 dan 133).
13. Perubahan wajah ibu ketika memangku Ganet: Wajah ibu berubah menjadi muda seperti saat ia baru melahirkan Clara dulu (hlm.126—127).
14. Ganet bisa bicara saat masih berusia empat bulan: Laksma mendengarkan musibah yang akan menimpa suaminya dari mulut Ganet (hlm. 158—159).
15. Setahun sekali Ganet tidur seharian: Zahra ingat Clara selalu berpuasa seharian saat hari ulang tahun dan baru makan pada pukul 12 malam menjelang pergantian hari. Tepat pada hari ulang tahun Clara, Ganet tertidur seharian dan baru terjaga tengah malam (hlm.162—163).
16. Selera Ganet mirip dengan selera Clara: Ia sangat menyukai boneka kura-kura (hlm. 163—165). Dekorasi di kamar Ganet pun sama persis dengan dekorasi di kamar Clara (hlm. 207).
17. Suara Ganet berubah menjadi suara Clara: Laksma mendengar sendiri perubahan suara Ganet (hlm.170—172).
18. Ganet mampu memberikan informasi yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Hal itu terjadi ketika Zahra lupa kepada teman sekosnya dulu (hlm. 183—185).
19. Daya nalar dan kepekaan Ganet terhadap peristiwa yang akan datang sangat tinggi. 192, 200, 205, 208—209, 212—213, 224—226, 237—240, 246—257).
20. Ganet memiliki alibi: Ketika ibu gurunya menderita depresi karena musibah kecelakaan yang menimpanya, Ganet mengunjungi ibu gurunya itu dan turut menenangkannya. Padahal, pada saat yang sama Ganet tertidur pulas hingga denyut nadinya melemah. Ketika Ganet kembali, gadis kecil itu terjaga (hlm. 229–236). Ganet juga beralibi menemui Carol di dalam pesawat yang akan membawanya ke luar negeri. Padahal pada saat yang bersamaan Ganet tertidur pulas (hlm. 240—241).
21. Jarak yang kian menjauh: Laksma mendadak menempuh jarak yang sangat jauh untuk menuju rumah Zahra hingga sangat kelelahan dan setengah linglung (hlm. 244—245).
22. Masa hidup Ganet dan Clara sama: Ganet meninggal tepat ketika menginjak usia 13 tahun. Keduanya meninggal dalam kondisi pencarian jati diri Tuhan dan sebelumnya mengalami perjalanan rohani yang sama, di antaranya berkunjung ke neraka dan surga (hlm.271—281).
Selama hidupnya Clara sangat dekat dengan adiknya, Zahra. Sebaliknya, sang kakak, Laksma, tidak demikian. Kelahiran Clara seakan meretas benang kasih sang ibu kepadanya. Kondisi Clara yang lemah tentunya menuntut perhatian khusus sang ibu kepadanya. Laksma merasa tersisihkan. Ia tidak segan-segan melampiaskan kekesalannya itu kepada Clara dengan berbagai cara. Kelahiran Zahra dapat menghibur Clara karena ia memiliki sahabat berbagi suka dan duka. Demikian pula, Zahra sangat menyayangi kakaknya. Kematian Clara sangat ia sesali karena tidak sempat memberikan apa yang diinginkan sang kakak menjelang ajalnya. Zahra tidak dapat mendampingi Clara saat orang terkasih itu tiada. Suasana kepedihan Zahra tercermin dalam kutipan berikut.
Sejak itu hari-hari Zahra adalah seorang perawan yang tengah menunggu kereta api di stasiun terakhir. Tak satu pun kereta yang datang berhenti di depan Zahra. Kepergian Clara sangat membuat Zahra terpukul. Ia kehilangan saudara, kakak, teman, sahabat, ibu, guru, dan entah sebutan apa lagi. Sebab hanya kepada Clara, Zahra menemukan kedamaian. Kedamaian yang tak mampu ibu dan ayah Zahra penuhi. (PMT:31)
Kematian Clara bukan merupakan akhir persahabatan mereka. Sepeninggal teman curhatnya itu, Zahra tidak pernah kehilangan Clara. Rupanya Zahra dikaruniai kepekaan yang luar biasa. Ia selalu berkomunikasi dengan Clara. Clara rupanya masih mencintai kehidupan di dunia dan enggan meninggalkan orang-orang yang ia cintai. Clara telah mendapat izin dari Tuhan untuk mengunjungi orang yang ia rindukan, Zahra. Jadilah komunikasi di antara keduanya berlanjut. Bahkan, Clara masih bisa mencicipi masakan ibunya yang disisihkan Zahra untuknya. Kamar Clara pun masih dibiarkan seperti aslinya dan dirawat seperti saat Clara masih hidup.
Kelebihan yang dimiliki Zahra tersebut rupanya menuai reaksi pro dan kontra dari keluarganya. Ibu, nenek, dan kakaknya tidak mempercayai Zahra yang mampu berhubungan dengan Clara. Mereka menganggap bahwa Zahra bersikap sangat aneh sepeninggal Clara.
Nenek yang pernah memvonisnya tak waras. (PMT:92)
Keikhlasan ibu untuk melepaskan Clara terusik dengan tingkah aneh Zahra. (PMT:35)
“Berhentilah bersikap aneh,” ujar Laksma lagi. (PMT:65)
Ibu telah berupaya keras untuk ‘menyembuhkan’ Zahra agar tidak menceracau tentang Clara, di antaranya membawa si bungsu kepada seorang psikiater.
Zahra sedikit gusar. Tak ada gunanya ia berlama-lama di depan psikiater ngawur itu. Ia tak mendapatkan apa-apa. Psikiater itu sama dengan nenek, ibu, dan Laksma. Jadi, untuk apa ia berlama-lama di situ. Serta merta ia beranjak dari duduknya. Berlalu dari ruangan itu. (PMT:70)
Namun, hal itu tidak pernah berhasil. Zahra kembali seperti semula, senang berbicara dengan Clara dan menyendiri. Ibu yang akhirnya putus asa, mengalihkan kekecewaannya itu pada pekerjaannya, workaholic. Nenek juga tidak percaya kepada Zahra sampai akhirnya wanita tua itu melihat sendiri keajaiban yang dialami cucunya itu. Laksma sama sekali tidak mempercayai Zahra hingga akhirnya ia mendapati bahwa kelak keponakannya, anak Zahra yang bernama Ganet, dikaruniai tanda-tanda yang cenderung identik dengan Clara.
Reaksi negatif dari keluarga yang diterimanya membuat Zahra memutuskan untuk menarik diri dari lingkungannya. Ia cenderung mengurung diri di kamar seharian sepulang dari sekolah. Komunikasi dengan anggota keluarga lainnya menjadi hambar. Satu-satunya jalan adalah pergi ke kamar Clara dan menunggu kehadiran sang kakak yang mampu menutup rasa hampa dalam diri Zahra.
Puncak dari kekecewaan Zahra adalah keputusannya untuk hengkang dari rumah, meninggalkan nenek, ibu, dan Laksma. Meskipun harus bersitegang dengan ibunya, Zahra tidak bergeming. Ia bersikeras untuk melanjutkan sekolahnya di perantauan.
Perjalanan di pesawat adalah perjalanan yang panjang. Setiap kali pesawat menempuh kilometer, jarak tujuan terasa bertambah jauh. Entah mengapa di atas pesawat itu Zahra merasa sendirian di alam lepas. Awan putih dengan titik air bening menggumpal di kaca jendela pesawat. Pergi dari rumah tanpa restu dan dukungan ibu telah ia lakukan.
Meskipun Zahra ngeri dengan ancaman ibunya, ia tetap bertekad belajar di kota propinsi. Tabungan dan beasiswa yang ia punya cukup untuk membiayai kuliah hingga selesai, sedang untuk tinggal dan makan mau tak mau ia harus bekerja. Bekerja? Sebagai apa. Pekerjaan apa yang bisa dilakukan anak selepas SMU. (PMT:74)
Pertemuan dengan Clara tiada terputus. Clara masih menemuinya. Namun, setelah pertemuannya dengan Bayu, lelaki yang mencintainya, Clara tidak lagi dapat menemuinya. Pada pertemuan terakhirnya dengan sang kakak, Zahra mendapat perintah dari kakak tercintanya itu untuk menerima pinangan Bayu. Clara mengatakan bahwa hanya melalui Bayulah ia dapat mengunjungi Zahra kembali.
Perkawinan Bayu dan Zahra membuahkan seorang bayi perempuan yang cantik bernama Ganet. Fisik dan seleranya sangat mirip dengan Clara. Kelahiran Ganet sama halnya dengan kematian Clara, sama-sama membuahkan peristiwa aneh. Ketika digendong oleh neneknya, wajah sang nenek berangsur-angsur menjadi muda kembali seperti saat ia melahirkan Clara dulu.
Diangkatnya Ganet pelan-pelan dengan penuh perasaan. Zahra melihat ada perubahan besar dalam diri ibu. Ia lihat pelan-pelan wajah ibu jauh lebih muda. Ibu seperti baru saja melahirkan, ya, ibu seperti baru melahirkan Clara. Ibu sangat cantik, berkulit bersih, matanya bersinar. Ibu mencium Ganet dalam-dalam dan menyebut nama Clara. Zahra tercengang. Ia dengar betul ibu menyebut nama Clara saat mencium Ganet. (PMT:127)
Ketika Clara meninggal, Laksma dengan iseng menuliskan nama Clara di dada adiknya yang telah membujur kaku itu. Namun, setelah Ganet lahir, tanpa sengaja ia membuka baju bayi itu dan menemukan tulisan nama yang sama di dada keponakannya yang masih merah itu.
Pelan-pelan Laksma membuka baju si bayi. Ia menelisik ke dada si bayi. Deg, jantung Laksma berpindah tempat. Pada dada si bayi jelas-jelas tertera nama Clara dengan tinta warna hitam. Tinta yang sama ketika ia menorehkan nama Clara pada dada Clara. (PMT:120)
Namun, keanehan tersebut hanya dapat dilihat oleh Laksma dan Zahra. Bayu dan ibu tidak melihatnya. Keanehan itu semakin berkembang seiring perkembangan tubuh Ganet. Ganet sudah dapat berbicara ketika menginjak usia empat bulan. Selain itu, kemampuan Ganet yang lain muncul seiring kemampuannya untuk berbicara. Ganet dapat menyampaikan peristiwa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
“Jangan pergi.”
Laksma terkejut. Ia yakin ucapan yang baru saja ia dengar bukan berasal dari ibu. Laksma memandangi Ganet dengan keheranan yang luar biasa. Ia semakin terheran-heran dengan pembicaraan Ganet yang sangat lancar.
“Nenek tak bohong, Ganet yang minta bertemu dengan Tante.”
Laksma bengong.
“Ada sesuatu yang mesti Ganet sampaikan.”
Laksma menautkan kening.
“Akan ada kabar buruk datang. Kapal suami tante tertabrak karang. Seluruh awak kapal meninggal.”
“Ganet.”
“Ini benar, Tante.”
Dada ibu bergemuruh, sedang Laksma seperti ingin mati. Ganet mengatakan suaminya akan meninggal. Itu menyakitkan. (PMT:158—159)
Kemampuan supranatural Ganet semakin berkembang seiring perkembangan usianya. Dengan spontan ia akan menyampaikan informasi futuristik kepada orang yang bersangkutan, di antaranya, keluarga teman kuliah ibunya, guru wali, tetangga, presiden, termasuk kerabatnya sendiri. Tentu saja informasi yang disampaikan Ganet mengundang pro dan kontra dari pihak yang bersangkutan. Ganet selalu dianggap mengada-ada, bahkan cenderung ditertawakan. Kata-kata Ganet dianggap angin lalu. Namun, ada pula yang menerima dan mengikuti kata-katanya. Salah seorang di antaranya adalah Sandra, teman ibu Ganet semasa kuliah dulu. Sandra dan kedua adiknya, Ester dan Carol, sudah tiga tahun lamanya tidak mengunjungi tanah kelahirannya dan makam ibu mereka. Ketika bertemu dengan Ganet, gadis kecil itu mengatakan bahwa makam ibunya sangat tidak terawat dan jika ketiga bersaudara itu tidak memperbaiki makam itu mereka akan tertimpa bencana. Semula Sandra tidak mempercayainya. Namun, akhirnya ia mencoba untuk mengikuti informasi anak ajaib itu. Diupayakannya untuk mengumpulkan dua saudaranya yang sama-sama supersibuk. Hanya Esterlah yang kurang memedulikan rencana itu. Sandra akhirnya berangkat sendirian dan memperbaiki makam ibunya serta rumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya dulu. Selanjutnya, Ganet mengabarkan kabar buruk kepada Ester bahwa Ganet mengatakan Ester akan kehilangan pekerjaannya. Tidak lama kemudian Ester mengalami hal itu. Lalu, Ganet menyarankan kepada Ester untuk melakukan sesuatu yang dulu sangat disukai oleh mendiang ibunya. Ester pun melakukan hal itu. Tidak lama kemudian Ester kembali mendapatkan panggilan kerja dari sebuah perusahaan. Ganet juga melakukan hal yang sama kepada Carol. Ketika Carol hendak bepergian dengan menggunakan kereta api, Ganet melarangnya dengan keras. Ganet melihat bayangan musibah tabrakan kereta api di pesawahan. Peristiwa itu sangat mengerikan. Carol pun terpaksa membatalkan kepergiannya meskipun telah membeli tiket kereta. Ganet pun meminta Carol untuk tinggal sementara di rumah selama beberapa hari. Tidak lama kemudian Carol menyaksikan peristiwa itu di televisi.
Ganet merasa sedih dan sesal ketika kata-katanya tidak ditanggapi. Terlebih ketika pihak istana kepresidenan menganggapnya angin lalu. Ia menyampaikan bahwa ibu kota akan dilanda banjir besar yang luar biasa mengerikan. Padahal, saat itu negeri ini sedang dilanda musim kemarau panjang. Pihak istana menyepelekan kata-katanya. Ganet dilanda rasa sedih dan sesal yang sangat dalam. Ia pulang dengan tangan hampa. Tidak berapa lama kemudian hujan terus-menerus mengguyur ibu kota. Air yang melimpah ruah itu tidak mampu dikendalikan dan merusak hampir seluruh wilayah kota metropolitan itu. Bahkan, sang presiden yang sempat melecehkan gadis ajaib itu terpaksa harus kehilangan anggota keluarganya. Korban jiwa pun berjatuhan tiada terhingga. Ganet hanya dapat menyaksikan poeristiwa itu dengan penyesalan yang luar biasa. Hal itu membuatnya sakit. Kondisi Ganet memburuk sejak saat itu.
Selain dapat meramalkan hal-hal pada masa yang akan datang, Ganet juga mampu beralibi. Jika demikian, di kamar ia tampak seperti tertidur pulas. Namun, pada saat itu jiwanya sedang mengunjungi orang-orang yang ia perhatikan. Ketika guru walinya mendapat musibah, ia datang mengunjunginya di rumah sakit. Padahal pada saat yang sama Zahra dan Laksma menyaksikan gadis itu sedang tertidur lelap. Namun, denyut nadi Ganet melemah. Setelah nyawa Ganet kembali, kondisinya akan kembali seperti semula.
Kemampuan Ganet pun memiliki ambang batas. Ganet tidak dapat membaca pikiran ibunya. Pada saat itu Zahra sedang terhanyut ke alam penyesalan. Penyesalan yang selalu datang pada akhirnya. Ganet terus berusaha membaca isi benak ibunya, tetapi tetap tidak bisa. Gadis kecil itu baru menyadari kelemahannya setelah mendapat bisikan Clara bahwa kemampuannya hanya muncul dengan sendirinya.
Zahra dan Ganet merupakan anak indigo. Namun, kadar keindigoan mereka sangat berbeda. Zahra hanya dapat menembus alam Clara dan berkomunikasi dengan mendiang kakaknya itu. Namun, Ganet memiliki kadar keindigoan yang lebih besar, bahkan sangat besar untuk ukuran anak seusianya itu. Selain dapat berkomunikasi dengan Clara, Ganet juga mampu menyampaikan hal-hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Sensitivitas Ganet sangat besar.
Sebagai anak indigo Zahra dan Ganet memiliki kesamaan, yaitu tidak mendapatkan tempat yang layak sebagai seorang anak indigo. Ketika Zahra mengatakan bahwa ia sering didatangi oleh Clara, anggota keluarganya yang lain menunjukkan reaksi kontra. Mereka menuduh bahwa Zahra sudah tidak waras, bertingkah aneh, dan pandai berhalusinasi. Karena tidak tahan dengan keanehan Zahra, ibu memutuskan untuk menjaga jarak dengan Zahra. Komunikasi dengan anggota keluarga lainnya pun terasa hambar. Akhirnya, Zahra pun menarik diri dan mengurung diri di kamar. Terlebih setelah keputusan ibu untuk mengubah kamar Clara menjadi gudang dilaksanakan. Puncaknya adalah larinya Zahra dari rumah dan melanjutkan kuliah di kota provinsi.
Ganet juga mengalami hal yang sama dengan Zahra, yaitu tidak mendapat tempat di hati keluarga terdekatnya, terutama ibunya. Satu hal yang sulit dimengerti, keanehan Ganet tidak akan tampak jika ayahnya, Bayu, berada di dekatnya. Ganet merasakan kesepian dan kesedihan yang justru dirasakan oleh Zahra. Ketika Zahra dianggap ‘tidak sembuh’ oleh ibunya, ia ditinggalkan wanita yang melahirkannya itu. Ibunya lebih memilih menjaga jarak dengan Zahra dan mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaannya. Ibu baru pulang larut malam saat Zahra telah tertidur. Zahra merasakan betapa orang-orang dekatnya, terutama ibunya, telah meninggalkannya. Padahal, saat itu ia sebenarnya sangat memerlukan kehadiran mereka.
Zahra menatap ibunya dengan penuh heran. Ada gerangan apa ibu menemuinya. Bukankah selama ini ibu seperti menghindar dari Zahra tanpa alasan yang jelas. Ya, sejak Clara orang yang paling dekat dengannya meninggal, ibu justru menjauh darinya. Padahal selama Clara meninggal Zahra sering kesepian dan kangen dengan ibu. Selalu ibu mengunjunginya meski hanya untuk merapikan selimut yang sesungguhnya sudah rapi. Dulu ada saja yang ibu katakan menjelang Zahra tidur. Sekarang tak terasa hampir satu tahun ibu telah meninggalkan kebiasaan yang hangat itu. (PMT:36)
Apa yang dialami oleh ibunya dulu juga dialami oleh Zahra. Zahra tidak mampu menerima keanehan yang dimiliki oleh Ganet. Zahra memutuskan untuk kembali bekerja demi menghindarkan diri dari penglihatannya terhadap kelebihan pada diri Ganet. Zahra tidak menyadari bahwa Ganet juga merasakan kesedihan dan kesepian seperti yang pernah ia alami dulu. Bahkan, Ganet sangat membenci ibunya. Beruntung ia masih memiliki tempat untuk mencurahkan isi hatinya, yaitu Laksma. Laksma sangat memahami apa yang pernah terjadi pada diri Zahra dan kini pada diri keponakan kecilnya itu. Melihat kesibukan dan sikap Zahra, Laksma bersikeras untuk merawat Ganet sepenuh hati. Terlebih setelah ia kehilangan suaminya, perhatian Laksma sepenuhnya tercurah kepada gadis itu. Laksma tidak menginginkan Ganet membenci ibunya. Ia berjuang untuk melekatkan kembali ikatan di antara keduanya yang sudah kendur itu. Zahra kemudian menyadari hal itu. Ia berusaha untuk mendampingi putrinya meskipun selalu tampak kewalahan menghadapi keanehan putrinya itu. Zahra sebagai anak indigo tidak mampu menerima kodrat putrinya yang juga indigo. Seharusnya posisi Ganet lebih baik karena berada di dekat seseorang yang juga indigo. Namun, posisi Ganet sama saja dengan posisi Zahra dahulu. Sama-sama tidak nyaman.
Lingkungan sekitar Zahra dan Ganet senantiasa monoton, yaitu menghendaki keduanya untuk bertindak seperti anak normal lainnya. Zahra tidak menghendaki kemampuan Ganet untuk menyampaikan prediksi masa depan. Demikian pula anggota keluarga tidak menghendaki Zahra berbicara tentang pertemuannya dengan Clara. Kelebihan yang dimiliki oleh Zahra dan Ganet tampak menjadi bumerang bagi orang-orang di sekitarnya. Khusus bagi Ganet, hal itu juga berlaku bagi orang-orang yang akan mengalami peristiwa yang diprediksinya.
Sikap lingkungan yang tidak berterima itu mendorong Zahra dan Ganet pada situasi yang sangat sulit. Zahra harus mengasingkan diri dari rumah dan anggota keluarganya. Lebih parah lagi, Ganet memburuk kondisinya ketika menyadari bahwa orang-orang yang ia prediksikan nasibnya itu menolaknya dan, kemudian, mengalami kejadian yang sangat menyedihkan. Batin Ganet pun terkoyak hebat. Stamina Ganet memburuk.
Zahra dan Ganet sama-sama tidak mendapatkan penanganan yang baik dari keluarganya. Latar belakang keluarganya yang broken home dan tiadanya sosok sang ayah, mendorong Zahra menuntaskan kelebihan yang dimilikinya dengan menjauh dari kehidupan keluarganya. Ganet sedikit lebih beruntung. Ganet memiliki latar orang tua yang utuh. Namun, sang ayah tidak pernah mengetahui kelebihan yang dimilikinya. Komunikasi Zahra tentang hal itu tidak pernah terjadi dalam keluarga. Namun, dukungan Laksma membuat Ganet memiliki sedikit celah untuk mengaktualisasikan kelebihannya itu. Zahra dan Ganet juga tidak digambarkan memiliki hubungan dengan teman-teman sebayanya. Mereka hanya digambarkan berkutat dengan lingkungan keluarga yang aggotanya notabene usianya lebih tua.
Kurangnya pendidikan religi juga mendukung sikap negatif keluarga dan Zahra sendiri. Clara baru mengenali Tuhannya tepat ketika di penghujung hayatnya. Demikian pula Ganet. Gadis itu juga berusaha menelusuri arti Tuhan dan makna kebesaran-Nya tepat ketika ia meregang nyawa yang hanya sejengkal lagi itu. Sosok ayah yang tidak pernah tergambarkan dalam cerita justru mengundang misteri dan sejuta pertanyaan (kecuali kiriman bunga mawar sesaat pascakematian Clara). Bukan tidak mungkin jika ayah Zahra berlatar belakang keyakinan yang berbeda. Hal itu tercermin dalam nama Clara yang berbau nasrani, yaitu Theodora Clara Dewi. Sementara itu, nama Zahra dan Laksma tidak pernah terungkapkan. Bukan tidak mungkin perbedaan keyakinan itulah yang menyebabkan terjadinya perpecahan di antara kedua orang tua tiga bersaudara itu. Hal itu pula yang memicu hambarnya pendidikan agama di lingkungan terkecil itu. Makna dan hakikat Tuhan tidak pernah tertanamkan sejak dini.
Ditinjau dari segi keturunan, Ganet memiliki garis indigo dari ibunya, Zahra. Sementara itu, tidak tertutup kemungkinan Zahra mengalami hal yang sama dari generasi sebelumnya.
Hembusan arus hidup globalisasi juga tercermin dalam novel ini. Gaya hidup yang cenderung serba cepat mendorong manusia menjadi mudah frustasi. Hal ini tercermin dari sikap ibu, Laksma, dan Zahra. Ibu tidak sabar dalam menghadapi kelebihan yang dimiliki oleh Zahra sehingga ikatan batin di antara keduanya menjadi hambar dan renggang. Laksma tidak sabar dalam menghadapi kondisi Clara yang sakit-sakitan. Bahkan, Laksma sempat menghendaki kematian adiknya itu. Zahra tidak sabar dalam menghadapi perilaku Ganet yang sebenarnya sama dengan dirinya. Zahra bersikap seperti ibunya, yaitu menghendaki perubahan pada diri orang lain dalam waktu cepat tanpa upaya dan kegigihan untuk menangani hal itu. Hubungan Zahra dan Ganet tidak ubahnya seperti hubungan Zahra dan ibu dulu. Perbedaannya ialah Ganet masih memiliki Laksma, sedangkan Zahra tidak mendapatkan pelabuhan curhat yang kasat mata seorang pun.
3. Simpulan
Novel Perempuan Mencari Tuhan merupakan rangkaian refleksi kehidupan anak indigo yang tidak mendapatkan penanganan secara tepat. Kelebihan yang dimiliki para indigo dalam cerita itu tidak mendapatkan tempat di lingkungan sekitarnya. Seperti dalam kisah indigo di dunia nyata, reaksi yang diterima dari lingkungan sekitar adalah reaksi kontra. Hal itu sangat menyulitkan kaum indigo untuk mengaktualisasikan kelebihan yang dimilikinya itu. Tidak tampaknya hubungan sosial dengan teman sebaya menyulitkan keseimbangan hubungan sosial sang indigo. Tokoh indigo dalam novel tampak terjerumus ke dalam dunia supranatural karena kurangnya latar pemahaman religi. Berkaitan dengan silsilah, teori yang mengatakan bahwa bakat indigo merupakan bakat turunan, juga terbukti. Ganet mendapatkan talenta indigo dari ibunya, Zahra.
Deraan arus globalisasi juga terasa kental dalam cerita. Arus tersebut cenderung mendorong manusia untuk mengembangkan gaya hidup cepat. Hal itu berimbas pada kejiwaan manusia. Manusia menjadi mudah depresi. Kesabaran menjadi prioritas nomor sekian. Hal itu tercermin dalam sikap tokoh ibu, Laksma, dan Zahra dalam menghadapi fakta yang ada. Lingkungan yang tidak berterima tersebut juga mudah mendorong anak indigo menjadi frustasi. Zahra dengan kepergiannya dan Ganet dengan sakitnya.
Beberapa karakteristik anak indigo seperti yang dikemukakan Tobler juga tercermin dalam cerita, di antaranya sebagai berikut: (1) Zahra dan Ganet memiliki kepekaan yang tinggi atau indera keenam, (2) Ganet mampu berfikir futuristik, (3) cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar, dan (4) sering bersitegang dengan orang terdekat terutama ibu dalam mempertahankan prinsip tertentu.
Daftar Pustaka
Bataviase. 2007. “Jiwa Tua Anak Indigo” dalam http://bataviase.wordpress.com/2007/04/30/jiwa-tua-anak-indigo/ diunduh tanggal 16 Maret 2009 jam 15:34
Eriyanti. 2009. “Indra Keenam Anak Indigo” dalam suplemen “Geulis” Pikiran Rakyat edisi Minggu, 22 Februari 2009, halaman 17.
http://dearlucky.blogspot.com/2007/08/anak-indigo-itu-hebat.html diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:40
http://forum.wintersat.com/science-n-art/1173-fenomena-anak-indigo.html diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:40
http://www.indospiritual.com/artikel_anak-indigo–aset-negara-yang-harus-diperhatikan.html diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:38
http://kontaktuhan.org/news/news186/fr_26.html diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:13
Mohammad, Herry et al. 2004. Liputan khusus Gatra dalam http://209.85.175.132/search?q=cache:aXL0mG13XR8J:www.gatra.com/2004-05-9/artikel.php%3Fid%3D35187+ANAK+INDIGO&cd=8&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:36
Rimba, Leonardo. 2005. “Anak Indigo dan Sistem Pendidikan Kita” dalam http://www.mail-archive.com/psikologi_net@yahoogroups.com/msg00170.html diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:34
Yaya. 2007. “Anak-Indigo” dalam http://myhealthblogging.com/parenting/2007/08/23// diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:25
Yudhistira, Dianing Widya. 2007. Perempuan Mencari Tuhan. Jakarta: Republika.
Jumat, 21 Mei 2010
Ramalan itu antara ada dan tiada. .
Tadi pagi seperti biasa gw berangkat ke kampus naik miniarta.. Miniarta itu lumayan sepi.. Di daerah Cibinong ada seorang bapak Cina yang berdiri dipinggir jalan, kayak orang yang nunggu bis gitu, tapi waktu bis lewat dia ga nyetop bis..sampai kenek miniarta yang gw naikin nawarin bapak itu buat naik miniarta. . Seperti biasa posisi duduk gw di sebelah kiri deket jendela, jadi gw bisa liat si bapak Cina itu...
Karena miniarta itu lumayan sepi, dan masih banyak bangku yang kosong, jadi gw cuek aja waktu bapak itu naik miniarta, gw pikir bapak itu bakal duduk ditempat yang ada laki2nya, atau dimana gitu, yang jelas bukan disebelah gw... Ternyata gw salah, bapak itu duduk disebelah gw dan SKSD sama gw.. Dia nanyain gw turun dimana, mau kerja atau ngapai, dan lain2...
Awalnya gw risih banget sama tu bapak2..Banyak omong banget, tapi mau ga mau gw ngelepasin headset gw karena suara bapak itu ga kedengeran... Dan mulailah bapak itu berbicara banyaaak hal... Mulai dari cerita tentang dia dan istrinya yang ktemu di bis, cerita anaknya, kuliahnya, banyak deh... Dan dia "ngebaca" gw...!!!!
Dia bilang gw itu orangnya baik, baguslah.. Tapi terlalu perasa, kalau ada masalah suka dipendem sendiri, nangis sendiri, ga mau berbagi sama orang lain.. Katanya gw juga ga usah terlalu serius dulu kalau pacaran, mending kuliah aja dulu.. Soalnya gw kan udah pernah ngerasain ditinggalin, putus sama pacar, dan itu rasanya ga enak banget, kehilangan.
Bapak itu juga nyuruh gw baca doa yang banyak, baca tahmid tiap hari. . .
Gw juga disuruh rajin belajar....banyak deh yang dia omongin..
Dia juga bilang kalau badan gw ini lemah, jadi harus makan yang banyak, minum susu..
Yaaa,,kalau gw sih ga percaya juga sama yang namanya ramalan atau sejenisnya,,tapi kalau hal itu positif buat diri gw, ga ngerugiin gw, dan bikin gw jadi lebih baik, gw terima aja..
Tapi gw ga pernah mau nyari tau tentang itu, gw ga pernah nyari tau jodoh gw siapa, atau apalah, dateng2 ke peramal gt..ga pernah! Biar itu jadi surprise dari Allah swt aja..
Bahkan waktu gw ketemu bapak itu tadi pagi, gw ga nanya apapun, nanya namanya aja samapi lupa,hehehe!
:)
Karena miniarta itu lumayan sepi, dan masih banyak bangku yang kosong, jadi gw cuek aja waktu bapak itu naik miniarta, gw pikir bapak itu bakal duduk ditempat yang ada laki2nya, atau dimana gitu, yang jelas bukan disebelah gw... Ternyata gw salah, bapak itu duduk disebelah gw dan SKSD sama gw.. Dia nanyain gw turun dimana, mau kerja atau ngapai, dan lain2...
Awalnya gw risih banget sama tu bapak2..Banyak omong banget, tapi mau ga mau gw ngelepasin headset gw karena suara bapak itu ga kedengeran... Dan mulailah bapak itu berbicara banyaaak hal... Mulai dari cerita tentang dia dan istrinya yang ktemu di bis, cerita anaknya, kuliahnya, banyak deh... Dan dia "ngebaca" gw...!!!!
Dia bilang gw itu orangnya baik, baguslah.. Tapi terlalu perasa, kalau ada masalah suka dipendem sendiri, nangis sendiri, ga mau berbagi sama orang lain.. Katanya gw juga ga usah terlalu serius dulu kalau pacaran, mending kuliah aja dulu.. Soalnya gw kan udah pernah ngerasain ditinggalin, putus sama pacar, dan itu rasanya ga enak banget, kehilangan.
Bapak itu juga nyuruh gw baca doa yang banyak, baca tahmid tiap hari. . .
Gw juga disuruh rajin belajar....banyak deh yang dia omongin..
Dia juga bilang kalau badan gw ini lemah, jadi harus makan yang banyak, minum susu..
Yaaa,,kalau gw sih ga percaya juga sama yang namanya ramalan atau sejenisnya,,tapi kalau hal itu positif buat diri gw, ga ngerugiin gw, dan bikin gw jadi lebih baik, gw terima aja..
Tapi gw ga pernah mau nyari tau tentang itu, gw ga pernah nyari tau jodoh gw siapa, atau apalah, dateng2 ke peramal gt..ga pernah! Biar itu jadi surprise dari Allah swt aja..
Bahkan waktu gw ketemu bapak itu tadi pagi, gw ga nanya apapun, nanya namanya aja samapi lupa,hehehe!
:)
Sabtu, 15 Mei 2010
just for you
eight months of being with you is not something without meaning
those days it was beautiful despite the many differences between me and you
many fights between me and you
but that's me and you
I hope there will be nine months, ten, and ever ....
^i love you^
those days it was beautiful despite the many differences between me and you
many fights between me and you
but that's me and you
I hope there will be nine months, ten, and ever ....
^i love you^
now failed, but maybe that was the beginning of success
Gue baru aja buka blognya Raditya Dika (http://radityadika.com/) penulis yang paling konyol kalo menurut gue... Ada kalimat yang menurut gue, gue banget. . Dia bilang "Salah satu rahasia besar gue adalah: gue selalu menganggap karya-karya gue sebagai suatu kegagalan."
Gue juga termasuk orang yang ga pernah puas sama karya gue, apapun bentuknya.. Gue ngerasa kok ga bagus yaa. . .????
Tapi disisi lain, perasaan kayak gitu bagus juga..bikin gue semangat buat bikin karya yang lebih bagus lagi. .
Malahan kadang2 karya yang menurut gue jelek, gagal, ga bangeeet,,,,malahan dipuji orang, disanjung2 orang, diminta bikinin tulisan tentang orang itu, bla bla bla...
:D
so?? hal2 yang mengejutkan gitu emang aneh...
intinya sesuatu yang kita buat dan menurut kita JELEK dan GA BERHARGA, bisa dipandang 180 derajat bedanya sama orang lain. . .Kalo menurut gue nih,,buat aja karya sebanyak2nya... siapa tau menurut kita itu jelek, gagal, tapi orang lain bisa suka karya kita...
Karena sebuah keberhasilan tersembunyi dibalik sebuah kegagalan...
Right?
;)
Gue juga termasuk orang yang ga pernah puas sama karya gue, apapun bentuknya.. Gue ngerasa kok ga bagus yaa. . .????
Tapi disisi lain, perasaan kayak gitu bagus juga..bikin gue semangat buat bikin karya yang lebih bagus lagi. .
Malahan kadang2 karya yang menurut gue jelek, gagal, ga bangeeet,,,,malahan dipuji orang, disanjung2 orang, diminta bikinin tulisan tentang orang itu, bla bla bla...
:D
so?? hal2 yang mengejutkan gitu emang aneh...
intinya sesuatu yang kita buat dan menurut kita JELEK dan GA BERHARGA, bisa dipandang 180 derajat bedanya sama orang lain. . .Kalo menurut gue nih,,buat aja karya sebanyak2nya... siapa tau menurut kita itu jelek, gagal, tapi orang lain bisa suka karya kita...
Karena sebuah keberhasilan tersembunyi dibalik sebuah kegagalan...
Right?
;)
Langganan:
Postingan (Atom)