Kamis, 03 Juni 2010

komplikasi rett disorder

Kebanyakan anak dengan gangguan Rett memiliki permasalahan dalam makan, sehingga anak dengan gangguan ini memiliki berat badan dibawah rata-rata anak normal. Untuk mendapatkan makanan bergizi, beberapa anak harus mendapatkan makanan melalui infus.
Beberapa komplikasi anak dengan gangguan Rett;
1. Perubahan bentuk tubuh kurang normal dibandingkan anak / orang seusianya
2. Gangguan pernafasan (cardiac dysrhythmias)
3. Rapuh tulang
4. Scoliosis


SUMBER:
Anonym. 2009. Rett disorder. http://www.pikirdong.org/psikologi/psi65rett.php. 16April2010

gejala rett disorder

Gejala kemunculan adanya gangguan Rett sifatnya sangat bervariatif antara satu anak dengan anak yang lainnya. Beberapa bayi kadang secara langsung menunjukkan adanya gangguan pada awal kelahiran, sementara lainnya beberapa bayi dapat diketahui adanya gangguan dikemudian hari.

Gangguan Rett atau Rett sindrom terdiri dari beberapa tahap gangguan;
1) Stage I
Gejala gangguan ini dimulai pada usia 6 sampai 18 bulan usia bayi. Pada tahap ini bayi mulai menghindari kontak mata dan kehilangan minat pada benda-benda mainan. Pada tahap ini bayi mengalami keterlambatan dalam merangkak dan duduk.

2) Stage II
Gejala gangguan dimulai pada usia 1-4 tahun. Beberapa gangguan yang muncul;
- Kehilangan kemampuan untuk berbicara
- Mengulang-ulang perbuatan yang sama
- Suka menggerakan tangan seperti sedang mencuci
- Menangis atau menjerit tanpa adanya provokasi
- Hambatan atau kesulitan dalam berjalan

3) Stage III
Gejala gangguan dimulai berkisar antara usia 2-10 tahun. Meskipun gangguan gerak terus berlanjut, anak dengan gangguan Rett masih mengalami perkembangan perilaku. Beberapa gangguan lain pada tahap ini;
- Sering menangis atau menjerit tanpa sebab yang jelas
- Perilaku waspada
- Permasalahan atensi
- Hambatan dalam komunikasi nonverbal

4) Stage IV
Tahap gangguan ini merupakan lanjutan dari stage sebelumnya, gejala yang muncul pada usia relatif terutama pada ebilitas (kemampuan) mobilitas diri. Gangguan yang muncul berupa gangguan komunikasi, kesulitan dalam memahami bahasa, gangguan psikomotorik pada tangan. Penderita gangguan Rett terlihat lemah dan beberapa diantaranya didiagnosa mengidap scoliosis. Beberapa fakta, pada tahap ini terjadinya penurunan perilaku mengulang ―bermain-main jari-jari tangan seperti mencuci.

Banyak pasien dengan gangguan Rett meninggal secara tiba-tiba pada saat tidur. Diperkirakan adanya kerusakan syaraf otak yang berhubungan dengan sistem pernafasan., kondisi ini disebut dengan sudden infant death syndrome (SIDS). Rata-rata usia pasien dengan sindrom Rett dapat bertahan hidup 40-50 tahun. Hampir keseluruhan hidup pasien membutuhkan pertolongan dari orang lain.


SUMBER:
Anonym. 2009. Rett disorder. http://www.pikirdong.org/psikologi/psi65rett.php. 16April2010

Rett disorder

Gangguan Rett atau dikenal dengan Rett syndrome (RS) merupakan gangguan genetika yang mengakibatkan adanya gangguan perkembangan otak. Gangguan ini muncul lebih banyak pada anak perempuan dibandingkan pria. Gangguan ini mirip sekali dengan gangguan autis, sehingga sindrom Rett juga dikenal sebagai gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorders; ASDs).

American Psychiatric Association (APA) mengklasifikasikan gangguan Rett dalam gangguan perkembangan pervasif (pervasive development disorders; PDD) bersama dengan beberapa gangguan lain; gangguan autisme, sindrom Asperger, gangguan disintegratif pada anak, dan gangguan perkembangan pervasif yang tidak terdefinisikan.

Penyebab gangguan ini tidak diketahui dengan pasti, kebanyakan kasus disebabkan oleh faktor mutasi genetik yang terjadi secara tiba-tiba. Sampai saat ini masih terus dilakukan penelitian yang lebih mendalam penyebab dan pencegahan terjadinya gangguan ini.

Bayi dengan sindrom Rett pada awal perkembangannya terlihat normal, akan tetapi gangguan ini sebenarnya sudah dibawa sejak lahir, selama itu, gangguan berkembang lambat namun gangguan barulah akan tampak jelas pada usia anak menjelang 18 bulan kemudian. Gangguan yang muncul berupa fungsi motorik dalam menggunakan tangan, berjalan, berbicara, mengunyah dan bahkan adanya gangguan dalam bernafas.

Gangguan tersebut merupakan kemunduran dalam perkembangan, bayi dengan gangguan Rett pada awalnya terlihat normal layaknya bayi-bayi normal lainnya, gangguan tersebut mulai terlihat nyata ketika usia mencapai 5 bulan dan tahun-tahun berikutnya. Bentuk-bentuk kemunduran dapat berupa gerakan tangan menjadi tak terkendali, gerakan yang terarah hilang, disertai dengan gangguan komunikasi dan penarikan diri secara sosial. Gerakan-gerakan otot tampak makin tidak terkoordinasi.


SUMBER:
Anonym. 2009. Rett disorder. http://www.pikirdong.org/psikologi/psi65rett.php. 16April2010

gangguan disintegratif

DEFINISI
Gangguan disintegratif masa kanak-kanak, anak yang rupanya normal mulai bertindak lebih muda (mundur) sesudah usia 3.

Pada kebanyakan anak, perkembangan fisik dan jiwa terjadi dengan cepat. Sering terjadi pada anak untuk mengalami langkah mundur; misalnya, seorang anak yang terlatih ke WC sekali-sekali mengompol. Gangguan masa kecil disintegratif, adalah kekacauan serius yang langka dimana seorang anak dengan usia lebih dari3 berhenti berkembang sevcara normal dan mengalami kemunduran pada banyak fungsi di bawahnya, biasanya mengikuti sakitnya gawat, seperti infeksi otak dan susunan syaraf.

Ciri-ciri
anak dengan gangguan disintegratif masa kanak-kanak berkembang secara normal sampai usia 3 atau 4 tahun, mempelajari ketrampilan wicara, buang air dengan benar, dan memperlihatkan prilaku sosial yangs sesuai. Lalu, setelah beberapa minggu atau bulan anak cepat-marah dan murung, anak menjalani kemunduran nyata. Dia mungkin kehilangan kemampuan berbahasa yang diperoleh dulunya, gerakan, atau ketrampilan sosial, dan dia mungkin tidak lagi mempunyai kontrol pada kandung kemih atau usus besarnya. Juga, anak mengalami kesukaran dengan interaksi sosial dan mulai melakukan kelakuan berulang mirip yang terjadi pada anak dengan penyakit autisme. Cukup sering anak lambat laun memburuk sampai derajat yang sangat terbelakang. Seorang dokter membuat diagnosa berdasarkan gejala dan pencarian untuk akar gangguan.

Gangguan disintegratif masa kanak-kanak tidak bisa diobati secara khusus atau disembuhkan, dan kebanyakan anak, khususnya dengan keterbelakangan yang parah, memerlukan perawatan seumur hidup.


SUMBER:
Anonym. 2010. Gangguan Disintegratif Anak. http://medicastore.com/penyakit/3343/Gangguan_Disintegratif_Anak.html. 16April2010

Perkembangan Penelitian Autisme

Tahun 1960 penanganan anak dengan autisme secara umum didasarkan pada model psikodinamika, menawarkan harapan akan pemulihan melalui experiential manipulations (Rimland, 1964). Namun demikian model psikodinamika dianggap tidak cukup efektif. Pada pertengahan tahun 1960-an, terdapat sejumlah laporan penelitian bahwa pelaku psikodinamik tidak dapat memberikan apa yang mereka janjikan (Lovaas, 1987). Melalui berbagai literatur, dapat disebutkan beberapa ahli yang memiliki perbedaan filosofis, variasi-variasi treatment dan target-target khusus lainnya, seperti:
• Rimland (1964): Meneliti karakteristik orang tua yang memiliki anak dengan autisme, seperti: pekerja keras, pintar, obsesif, rutin dan detail. Ia juga meneliti penyebab autisme yang menurutnya mengarah pada faktor biologis.
• Bettelheim (1967): Ide penyebab autisme adalah adanya penolakan dari orang tua. Infantile Autism disebabkan harapan orang tua untuk tidak memiliki anak, karena pada saat itu psikoterapi yang sangat berpengaruh, maka ia menginstitusionalkan 46 anak dengan autistime untuk keluar dari stress berat. Namun tidak dilaporkan secara detail kelanjutan dari hasil pekerjaannya tersebut.
• Delacato (1974): Autisme disebabkan oleh Brain injured. Sebagai seorang Fisioterapi maka Delacato memberikan treatment yang bersifat sensoris. Pengaruh ini kemudian berkembang pada Doman yang dikemudian hari mengembangkan metode Gleen Doman.
• Lovaas (1987): Mengaplikasikan teori Skinne dan menerapkan Behavior Modification kepada anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan autistisme di dalamnya. Ia membuat program-program intervensi bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang dilakukannya di UCLA. Dari hasil program-program Lovaas, anak-anak dengan autisme mendapatkan program modifikasi perilaku yang kemudian berkembang secara professional dalam jurnal-jurnal psikologi.

Hingga saat ini terdapat banyak program intervensi perilaku bagi anak dengan autisme, setiap program memiliki berbagai variasi dan pengembangan-pengembangan sendiri sesuai dengan penelitian-penelitan dilakukan. Perkembangan studi mengenai autisme kemudian disampaikan oleh Rogers, Sally J., sebagaimana disebutkan di bawah ini:
• 1960s Heavy emphasis on causes of autism, correlates of autism
• 1970s Heavy emphasis on assessment, diagnosis: emerging literature on treatment
• 1980s Heavy emphasis on functional assessment and treatment, school-based services
• 1990s Heavy emphasis on social interventions, assessment, school-based services
• 2000s Litigation, school-based services

PENDIDIKAN BAGI PENDERITA AUTIS

Ketika usia anak mendekati usia sekolah, pertanyaan akan perlunya anak autistic sekolah akan berkembang. Hal apa saja yang perlu dipersiapkan orang tua jika memutuskan memasukkan anak autistik ke sekolah?
a. Kesiapan Anak
Untuk mengetahui kesiapan anak autistik memasuki sekolah, ada baiknya orang tua mendiskusikannya terlebih dahulu kepada psikolog yang merawat anak autistik sebelumnya. Hal ini perlu dilakukan agar orang tua tidak secara sepihak memaksakan anak autistik untuk masuk sekolah. Mintalah tes kesiapan belajar bagi anak autistik bukan sekedar tes intelegensi, karena tujuannya adalah mempersiapkan anak masuk sekolah reguler bukan sekedar mengetahui kecerdasan anak autistik saja.
Mintalah pendapat dari para terapis tentang kesiapan anak masuk sekolah, seperti misalnya: kemampuan menulis, kemampuan motorik halus anak, ketahanan anak untuk duduk tenang selama jam pelajaran, kemampuan anak mempertahankan perhatian pada pelajaran, kemampuan menyerap pengetahuan, kemampuan berbicara (menyampaikan dan mendengar pendapat), minimalisasi perilaku anak yang tidak umum, adaptasi dengan sebaya. Dan hal-hal lain terkait dengan perilaku wajar yang harus ditampilkan di kelas. Jika anak dinyatakan layak untuk mendapat layanan pendidikan di sekolah reguler mintalah surat referensi dari psikolog dan terapis yang bersangkutan untuk ditunjukkan kepada sekolah yang dituju. Surat referensi ini kemudian akan digunakan sebagai dasar pembuatan kurikulum adaptasi bagi anak autistik. Penyusunan kurikulum adaptasi atau biasa disebut PPI (Program Pembelajaran Individual) dan IEP (Individual Educational Programme) harus dilakukan dan disepakati bersama antara guru, orang tua, psikolog, manajemen sekolah, dan terapis sebagai pedoman pengajaran harian anak autistik di sekolah.

b. Kesiapan orang tua
Sebagai orang tua selain persiapan dana yang cukup—termasuk dana cadangan darurat bagi pendidikan anak autistik—orang tua perlu mempersiapkan mental saat memasukkan anak autistik di sekolah reguler. Akan banyak kejutan yang perlu disikapi secara bijaksana oleh orang tua di sekolah reguler, seperti misalnya penolakan dari orang tua anak lain ataupun bullying dari sesama siswa.
Kesiapan mental orang tua akan sangat mendukung anak dalam mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Keaktifan orang tua dalam membangun jejaring sosial di sekolah akan membantu anak autistik untuk berkembang secara maksimal. Hal ini berguna selain untuk mengkampanyekan keberadaan anak autistik juga untuk membangun pemahaman lingkungan bahwa anak autistik tidak perlu dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas mental anak-anak lainnya, bahkan anak-anak akan bisa belajar tentang arti kerukunan dalam keberbedaan.
Bagi orang tua yang memilih homeschooling sebagai pilihan layanan pendidikan bagi anak autistik, orang tua juga perlu mempersiapkan mental dalam menghadapi rutinitas belajar anak autistik sehari-hari. Kebosanan dan kejenuhan karena perkembangan yang lambat dari anak autistik bila dibandingkan dengan anak-anak lainnya seringkali membebani pikiran orang tua, sehingga orang tua harus selalu punya kesabaran dan cara yang kreatif untuk mengatasinya. Demikian pula bila akan menghadirkan pengajar tambahan, orang tua harus mampu bekerjasama dengan baik dengan para pengajar tersebut.

c. Kesiapan Guru Atau Pengajar
Anak autistik pasti harus belajar bersama guru di kelas. Guru yang memahami kondisi anak autistik akan lebih mudah menyampaikan pelajaran dan mengelola kelas yang di dalamnya terdapat anak autistik. Pada saat ini asih banyak guru yang belum memahami keberbedaan anak autistik dan cara penanganannya di kelas. Hal ini seringkali membuat kendala dalam pengajaran anak autistik di kelas. Oleh sebab itu, sebaiknya orang tua mempersiapkan anak autistik masuk sekolah jauh sebelum waktu pendaftaran dibuka, misalnya 3-4 bulan sebelumnya. Orang tua sebaiknya melakukan pendekatan dengan calon guru kelas sebelum anak autistik masuk sekolah. Orang tua juga wajib menyampaikan perilaku khusus anak autistik yang harus diintegrasikan saat di kelas nantinya. Kerjasama yang baik antara orang tua dan guru akan sangat
membantu anak autistik untuk belajar.
Guru pendamping (shadow teacher) juga diperlukan bagi anak autistik di tahun-tahun pertama atau bahkan selama berada di sekolah dasar. Keberadaan guru pendamping sebaiknya dipersiapkan lebih dini oleh para orang tua anak autistik untuk mendampingi anak di kelas. Guru pendamping harus mampu memediasi anak autistik untuk bersikap wajar selama jam pelajaran, senantiasa mengembalikan perhatian anak autistik pada pelajaran, membantu anak bersosialisasi dengan siswa lain di dalam dan di luar kelas, juga menjadi jembatan antara anak autistik dengan guru kelas dan orang tua.

d. Layanan pendukung
Pengasuh atau pendamping adalah hal penting juga yang harus dipersiapkan oleh orang tua. Idealnya seorang pengasuh hanya bertugas mengantar pergi dan pulang sekolah serta menyiapkan bekal yang diperlukan anak di sekolah. Namun demikian bila seorang pengasuh yang menemani anak autistik ternyata memiliki pendidikan yang cukup dan kemauan untuk belajar yang tinggi, kita bisa memintanya untuk mendampingi belajar anak misalnya dalam mengerjakan pekerjaan rumah atau belajar tambahan di rumah. Perlu diberi pemahaman bagi pengasuh bila ia mendampingi belajar anak autistik, ia tetap harus mampu secara objektif membantu anak belajar mandiri. Ia tidak boleh mengerjakan tugas anak autistik karena rasa kasihan atau sayangnya yang berlebihan. Hal ini akan membuat anak autistik tidak akan mampu mengerjakan tugas secara mandiri kelak.
Keberadaan anak autistik di sekolah sebaiknya juga mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan setempat di mana anak autistik akan disekolahkan. Hubungi Kantor Dinas Pendidikan setempat sebelum anak autistik masuk sekolah. Mintalah saran dan perhatian dari pejabat terkait agar anak autistik juga mendapatkan legalisasi untuk bersekolah bersama anak-anak lain. Bawa juga referensi yang diberikan psikolog dan para terapis sebagai bahan pertimbangan Dinas Pendidikan untuk melegalisasi keberadaan anak autistik di sekolah. “Sekolah atau tidak sekolah?” Orang tualah yang memutuskan mana yang terbaik untuk anak-anak autistik. Keunikan, gangguan, dan masalah kesehatan anak autistik harus dipahami dan dipersiapkan penanganannya secara dini. Kesiapan anak untuk belajar di sekolah adalah dasar utama untuk memutuskan anak belajar di sekolah. Jangan memaksakan diri untuk memasukkan anak ke sekolah bila anak autistik memang belum siap belajar di kelas, apalagi bila orang tua belum siap untuk menyediakan tenaga, mental, dana, dan layanan tambahan yang diperlukan. Hal ini bukan membantu anak untuk belajar tetapi malah menjerumuskan anak untuk semakin tersiksa dengan dunia luar yang tidak nyaman. Oleh sebab itu, keputusan orang tua untuk menyekolahkan anak autistik di sekolah reguler baik secara mainstreaming ataupun inklusif harusnya dipersiapkan jauh- jauh waktu secara matang dan terencana supaya sekolah benar-benar bisa menjadi sarana belajar anak autistik yang menyenangkan bukan menyiksa


Beberapa anak autistik memiliki gangguan lainnya yang menjadi pemberat dalam kasus autistik yang dialami anak, seperti misalnya: hipersensitifitas terhadap suara, sentuhan, atau kelainan okupasi yang umum dialami oleh anak autistik. Ketahanan tubuh terhadap
penyakit juga salah satu masalah yang biasanya membebani anak autistik, yang akan
berdampak pada absensi anak autistik saat ia bersekolah.
Mari kita lihat terlebih dahulu berbagai pilihan pendidikan formal yang ditawarkan bagi anak autistik.
a. Sekolah bersegregasi
Sistem pelayanan pendidikan segregasi di Indonesia lebih dikenal dengan nama Sekolah Luar Biasa atau biasa disingkat dengan sebutan SLB. Sistem layanan pendidikan yang basisnya adalah memisahkan anak berkebutuhan khusus dari anak-anak lainnya akan memberikan dampak yang kurang memuaskan bagi anak autistik. Masalah sosialisasi yang dialami anak autistik yang cenderung menyendiri dan tidak peduli dengan lingkungannya akan semakin terpupuk bila anak bersekolah di sekolah yang berpaham segregasi atau pemisahan ini. Dalam keseharian di sekolah anak autistik akan juga meniru perilaku yang kurang tepat dari siswa berkebutuhan khusus lainnya.

b. Sekolah mainstreaming
Sistem layanan pendidikan secara mainstreaming dimaksudkan sebagai cara mencemplungkan anak autistik di sekolah reguler begitu saja. Dampak positif yang diterima anak autistik bila bersekolah secara mainstreaming adalah anak autistik secara langsung belajar dari lingkungannya bagaimana ia harus bersikap dan bertutur sesuai dengan keadaan lingkungannya. Namun demikian ada juga dampak negatif yang akan menimpa anak autistik, hal itu misalnya: kurikulum dan metode pengajaran yang kurang sesuai bagi anak autistik yang kemudian justru akan membebani anak dalam belajar.
Ketidaksiapan sarana belajar dan fasilitas pendukung yang dibutuhkan anak autistik di sekolah reguler juga akan mempengaruhi proses belajar anak di sekolah. Ketiadaan guru pendamping di awal-awal tahun dimulainya anak autistic bersekolah tidak saja membebani guru kelas yang mengajar, tetapi juga akan mempengaruhi siswa lain dan anak autistik sendiri di dalam kelas.

c. Sekolah Inklusi
Sekolah inklusi adalah sekolah reguler yang menerima anak berkebutuhan khusus bersama dengan anak-anak biasa di kelas yang sama. Perbedaan sekolah inklusi dengan sekolah mainstreaming terletak pada kesiapan sekolah termasuk di dalamnya tenaga pengajar, kurikulum yang diadaptasi sesuai dengan kebutuhan khusus anak dan fasilitas penunjang lainnya.
Saat ini jumlah sekolah inklusi masih sedikit, padahal prinsip inklusif yang membaurkan anak-anak berkebutuhan khusus bersama dengan anak-anak lainnya dalam belajar memberikan banyak keuntungan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan lingkungannya untuk saling beradaptasi dan bersosialisasi. Pembauran ini juga dapat meningkatkan empati dan pemahaman anak akan perbedaan yang tidak perlu menjadi penghalang dalam pergaulan.

d. Sekolah di rumah (homeschooling)
Sekolah di rumah pada prinsipnya sama saja dengan bersekolah di sekolah reguler, namun proses belajar-mengajar sebagian besar dilakukan di rumah dengan orang tua atau guru khusus sebagai pembimbing utama. Metode klasikal juga dapat dilakukan di rumah jika peserta didik cukup banyak.
Keuntungan sekolah di rumah atau biasa disebut homeschooling adalah lebih terfokusnya perhatian pengajar pada peserta didik, demikian pula sebaliknya. Bila orang tua sebagai pengajar utama cukup aktif dan kreatif mengembangkan metode pengajaran, maka pilihan layanan pendidikan ini cukup memadai bagi anak autistik.


SUMBER: Priyanto, Agustina K, S.Psi.; 2009; Sekolah Untuk Anak Autistik; http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:9WqX-FRjEAEJ:puterakembara.org/rm/SEKOLAH-UNTUK-ANAK-AUTISTIK.pdf+dampak+autisme&hl=id&gl=id&sig=AHIEtbSLTjVXzLPsVRB14zxUKs6Zjx5Dvw; 11Maret2010

Prevalensi Individu dengan autisme

Diperkirakan terdapat 400.000 individu dengan autisme di Amerika Serikat. Sejak tahun 80 – an, bayi-bayi yang lahir di California – AS, diambil darahnya dan disimpan di pusat penelitian Autisme. Penelitian dilakukan oleh Terry Phillips, seorang pakar kedokteran saraf dari Universitas George Washington. Dari 250 contoh darah yang diambil, ternyata hasilnya mencengangkan; seperempat dari anak-anak tersebut menunjukkan gejala autis. National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) memperkirakan bahwa autisme dan PDD pada tahun 2000 mendekati 50 – 100 per 10.000 kelahiran. Penelitian Frombonne (Study Frombonne: 2003) menghasilkan prevalensi dari autisme beserta spektrumnya (Autism Spectrum Disorder/ASD) adalah: 60/10.000 – best current estimate dan terdapat 425.000 penyandang ASD yang berusia dibawah 18 tahun di Amerika Serikat. Di Inggris, data terbaru adalah: 62.6/10.000 ASD. Autisme secara umum telah diketahui terjadi empat kali lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan yang terjadi pada anak perempuan. Hingga saat ini penyebabnya belum diketahui secara pasti. Saat ini para ahli terus mengembangkan penelitian mereka untuk mengetahui sebabnya sehingga mereka pun dapat menemukan ‘obat’ yang tepat untuk mengatasi fenomena ini. Bidang-bidang yang menjadi fokus utama dalam penelitian para ahli, meliputi; kerusakan secara neurologis dan ketidakseimbangan dalam otak yang bersifat biokimia. Dr. Ron Leaf saat melakukan seminar di Singapura pada tanggal 26 – 27 Maret 2004, menyebutkan beberapa faktor penyebab autisme, yaitu:
• Genetic susceptibility – different genes may be responsible in different families
• Chromosome 7 – speech / language chromosome
• Variety of problems in pregnancy at birth or even after birth

Meskipun para ahli dan praktisi di bidang autisme tidak selamanya dapat menyetujui atau bahkan sependapat dengan penyebab-penyebab di atas. Hal terpenting yang perlu dicatat melalui hasil penelitian-penelitian terdahulu adalah bahwa gangguan autisme tidak disebabkan oleh faktor-faktor yang bersifat psikologis, misalnya karena orang tua tidak menginginkan anak ketika hamil.

Bagaimana di Indonesia? Belum ditemukan data yang akurat mengenai keadaan yang sesungguhnya di Indonesia, namun dalam suatu wawancara di Koran Kompas; Dr. Melly Budhiman, seorang Psikiater Anak dan Ketua dari Yayasan Autisme Indonesia menyebutkan adanya peningkatan yang luar biasa. “Bila sepuluh tahun yang lalu jumlah penyandang autisme diperkirakan satu per 5.000 anak, sekarang meningkat menjadi satu per 500 anak” (Kompas: 2000). Tahun 2000 yang lalu, Dr. Ika Widyawati; staf bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia memperkirakan terdapat kurang lebih 6.900 anak penyandang autisme di Indonesia. Jumlah tersebut menurutnya setiap tahun terus meningkat. Hal ini sungguh patut diwaspadai karena jika penduduk di Indonesia saat ini mencapai lebih dari 160 juta, kira-kira berapa orang yang terdata sungguh-sungguh menyandang austime beserta spektrumnya?


SUMBER: No name; 2010; Autisme; http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme; 11Maret2010